Trump Ingin Ngerem Perang Iran Jelang Pemilu Paruh Waktu AS
WASHINGTON, iNews.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengisyaratkan ingin meredam eskalasi perang dengan Iran menjelang pemilu paruh waktu (midterm) AS pada November mendatang. Trump mengaku lebih memilih jalur diplomasi karena menilai Teheran kini menunjukkan keseriusan untuk kembali berunding mengenai gencatan senjata.
Trump juga menegaskan tidak terburu-buru melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran. Menurut dia, konflik harus dikelola dengan tepat agar tidak berdampak besar terhadap pemilu paruh waktu yang akan menentukan komposisi DPR dan Senat AS, yang saat ini dikuasai Partai Republik.
"Terlepas dari apa yang disampaikan semua orang tentang pemilu, saya tidak terburu-buru. Kita harus melakukannya dengan benar," kata Trump di Gedung Putih, seperti dikutip dari Anadolu, Sabtu (25/7/2026).
Trump mengatakan Iran kini semakin serius untuk melanjutkan negosiasi setelah perang kedua negara kembali pecah sejak 7 Juli lalu. Konflik dipicu kebuntuan mengenai pengelolaan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
"Kami sedang berbicara dengan mereka saat ini. Saya kira mereka semakin serius seiring berjalannya waktu, mungkin karena alasan yang jelas," ujar Trump.
Dia menambahkan, keseriusan Iran dinilai jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya. Namun, hal itu tidak berarti Washington menghentikan seluruh opsi yang dimiliki.
"Saya kira mereka jauh lebih serius daripada yang pernah kita lihat. Tapi itu tidak berarti kita berhenti sampai di sana. Kita lihat saja apa yang terjadi," katanya.
Saat ditanya apakah akan memerintahkan serangan besar-besaran terhadap Iran, Trump menjawab negaranya memiliki kemampuan untuk meningkatkan operasi militer kapan saja, namun belum mengambil keputusan tersebut.
"Kita bisa membawa hal itu ke tingkat yang jauh lebih tinggi jika mau, kita siap untuk melakukannya. Kita siap siaga dan siap untuk bertindak," tuturnya.
Trump menegaskan pemerintahannya memiliki dua pilihan dalam menghadapi Iran, yakni jalur diplomasi dan militer. Meski demikian, dia lebih mengutamakan penyelesaian melalui perundingan.
"Ini masalah besar. Mereka tidak boleh memiliki senjata nuklir," ujarnya.
Dia juga memastikan seluruh tim negosiasi AS yang dipimpin Wakil Presiden JD Vance siap memulai kembali pembicaraan dengan Iran kapan pun diperlukan.
Sikap hati-hati Trump dinilai berkaitan dengan pertimbangan politik domestik. Sejumlah ahli strategi Partai Republik sebelumnya mengingatkan bahwa perang yang tidak populer melawan Iran berpotensi mengurangi perolehan kursi partai tersebut di DPR maupun Senat dalam pemilu November mendatang.
Meski Trump tidak ikut dalam pemilu tersebut, hasil pemungutan suara akan sangat menentukan sisa masa pemerintahannya. Jika Partai Demokrat berhasil merebut salah satu atau bahkan kedua majelis Kongres, pemerintahan Trump diperkirakan akan menghadapi hambatan politik yang lebih besar dalam dua tahun terakhir masa jabatannya, bahkan membuka peluang munculnya kembali upaya pemakzulan.










