Telur Ceplok atau Dadar, Mana Lebih Sehat? Begini Penjelasan Ahli Gizi

Telur Ceplok atau Dadar, Mana Lebih Sehat? Begini Penjelasan Ahli Gizi

Gaya Hidup | inews | Jum'at, 17 Juli 2026 - 20:35
share

JAKARTA, iNews.id - Telur ceplok atau telur dadar kerap menjadi pilihan menu sarapan maupun lauk sehari-hari. Namun, banyak masyarakat masih bertanya-tanya, mana yang lebih sehat di antara keduanya, terutama bagi yang sedang menjalani pola makan sehat.

Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, Dr Karina Rahmadia Ekawidyani, mengatakan secara umum telur ceplok dan telur dadar memiliki kandungan gizi yang hampir sama. Perbedaan utamanya terletak pada jumlah minyak dan bahan tambahan yang digunakan saat proses memasak.

"Secara umum tidak ada perbedaan kandungan gizi yang berarti antara telur ceplok dan telur dadar. Yang membedakan biasanya adalah kandungan lemak, bergantung dari jumlah minyak yang digunakan untuk memasak," katanya, dalam keterangan tertulis dilansir Kamis (17/7/2026).

Dia menjelaskan, telur dadar umumnya memiliki kandungan kalori dan lemak yang sedikit lebih tinggi karena cenderung menyerap lebih banyak minyak saat digoreng. Selain itu, penambahan bahan seperti keju, tepung, sosis, atau daging cincang juga dapat meningkatkan jumlah kalori dan energi pada hidangan tersebut.

Menurut Dr Karina, proses memasak justru memberikan manfaat terhadap kualitas protein telur. Pemanasan membuat protein mengalami denaturasi sehingga lebih mudah dicerna dan diserap oleh tubuh.

"Proses memasak telur dapat meningkatkan daya cerna dan penyerapan protein hingga sekitar 91 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan telur mentah yang hanya sekitar 51 persen," ujarnya.

Meski begitu, dia mengingatkan agar telur tidak dimasak dengan suhu yang terlalu tinggi dalam waktu lama. Suhu memasak yang disarankan berkisar 60 hingga 80 derajat Celsius.

Sementara itu, pemanasan pada suhu di atas 150 hingga 160 derajat Celsius berpotensi merusak sebagian asam amino sehingga dapat menurunkan kualitas gizi telur.

Bagi masyarakat yang sedang menjaga berat badan, Dr Karina menyarankan metode memasak tanpa minyak, seperti merebus, membuat poached egg, atau mengukus. Namun, telur ceplok maupun telur dadar tetap bisa menjadi pilihan sehat selama penggunaan minyak dibatasi.

"Gunakan wajan anti lengket atau minyak semprot agar jumlah minyak yang digunakan lebih sedikit," ucapnya.

Dr Karina juga meluruskan anggapan bahwa kuning telur sebaiknya dihindari karena kandungan kolesterolnya. Menurut dia, kuning telur justru kaya vitamin dan mineral yang dibutuhkan tubuh.

Dia mengatakan, berbagai penelitian terbaru menunjukkan konsumsi telur tidak terbukti meningkatkan risiko penyakit jantung pada orang sehat. Peningkatan kolesterol darah lebih banyak dipengaruhi oleh konsumsi makanan tinggi lemak jenuh dan lemak trans yang dikonsumsi bersamaan dengan makanan sumber kolesterol.

Sebab itu, masyarakat tidak perlu ragu mengonsumsi telur sebagai bagian dari pola makan bergizi seimbang. Yang terpenting adalah memperhatikan cara pengolahannya agar manfaat gizinya tetap optimal.

Topik Menarik