CKG 2026 Ungkap Penyakit Jantung Bawaan pada Bayi, Karies Gigi Jadi Masalah Terbanyak

CKG 2026 Ungkap Penyakit Jantung Bawaan pada Bayi, Karies Gigi Jadi Masalah Terbanyak

Gaya Hidup | sindonews | Jum'at, 17 Juli 2026 - 15:47
share

Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang diinisiasi Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkap fakta mengejutkan sepanjang semester pertama tahun 2026. Angka prevalensi penyakit jantung bawaan kritis tercatat cukup tinggi pada kelompok usia bayi.

Hingga 5 Juli 2026, tercatat sudah ada 59,6 juta masyarakat yang berpartisipasi dalam program CKG. Dari hasil skrining massal tersebut, Kemenkes memetakan berbagai masalah kesehatan yang jamak dialami masyarakat berdasarkan kelompok usia, mulai dari bayi, anak sekolah, hingga usia remaja.

Baca juga: Dukung Program Pemerintah, Cek Kesehatan Segitiga Telah Jangkau 15.000 Masyarakat

Berdasarkan data per 28 Juni 2026, penyakit jantung bawaan kritis menjadi salah satu ancaman dengan prevalensi yang cukup tinggi pada kelompok bayi baru lahir.

Dari 490.000 bayi yang telah menjalani enam metode skrining, sebanyak 4,3 persen atau sekitar 20.946 bayi tercatat berpotensi mengalami indikasi kelainan. Sehingga, harus segera mendapatkan pemeriksaan lanjutan demi memastikan kondisinya.Sementara itu, peta masalah kesehatan bergeser seiring bertambahnya usia anak. Pada kelompok SD, paling banyak ditemukan masalah karies gigi, hipertensi, gangguan status gizi, serta gangguan indera pendengaran dan penglihatan.

Baca juga: Deteksi Dini Kanker Serviks, DWP BNPP RI Gelar Pemeriksaan Pap Smear Gratis

Kemudian pada kelompok SMP, masalah karies gigi semakin meningkat. Selain itu, kelompok usia ini mulai menunjukkan gejala gangguan kesehatan jiwa berupa depresi, yang dibarengi dengan risiko tuberkulosis (TBC), hipertensi, dan masalah gizi.

Sementara, pada kelompok SMA, masalah gangguan mental dan depresi justru ditemukan semakin melonjak. Tren ini diikuti oleh masalah karies gigi, hipertensi, risiko TBC, hingga obesitas.

Secara keseluruhan, karies gigi menjadi masalah kesehatan yang paling banyak ditemukan, yakni dialami oleh lebih dari 40 persen peserta. Posisi berikutnya diikuti oleh anemia 27 persen, peningkatan tekanan darah 21 persen, penumpukan kotoran telinga 7 persen serta obesitas sebanyak 7 persen.Catatan di atas menunjukkan bahwa Indonesia kini menghadapi fenomena double burden of malnutrition (beban ganda masalah gizi). Data menunjukkan bahwa persoalan gizi tidak lagi didominasi oleh anak kurung (gizi kurang). Jumlah anak dengan gizi lebih atau obesitas kini semakin meroket dan mendekati angka gizi kurang.

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, menegaskan bahwa berbagai hasil CKG di atas akan menjadi dasar bagi pemerintah untuk melakukan intervensi pelayanan kesehatan agar lebih tepat sasaran.

"Sekarang kita memiliki data kesehatan masyarakat yang jauh lebih lengkap. Kita tahu masalah kesehatan anak SD berbeda dengan anak SMP maupun SMA. Dengan data ini, intervensi pemerintah menjadi lebih tepat sasaran sehingga sumber daya kesehatan dapat digunakan secara lebih efektif," ujar Budi dalam siaran persnya, dikutip Jumat (17/7/2026).

Maka dari itu, Kemenkes meningkatkan program CKG tidak hanya pada deteksi dini, melainkan sudah mulai masuk ke tahap tatalaksana atau pengobatan. Fokus utamanya saat ini adalah mengobati peserta CKG yang terdiagnosis penyakit kronis, khususnya hipertensi (tekanan darah tinggi) dan diabetes melitus (kencing manis).

Ia menjelaskan, sebanyak 35,4 persen pasien yang terjaring di CKG 2025 telah kembali berobat pada CKG 2026. Hebatnya, hampir separuh dari mereka 46,9 persen kini berhasil mengontrol tekanan darahnya ke angka normal. Kemudian, sekitar 33,1 persen pasien lama diabetes telah melakukan pemeriksaan ulang, dan mayoritas dari mereka 69,4 persen sukses mengendalikan kadar gula darahnya.Budi menargetkan minimal 50 persen penderita penyakit kronis ini mau menjalani pengobatan rutin, dengan setengah di antaranya berhasil mencapai kondisi stabil. Target ini berkaca dari keberhasilan negara maju seperti Korea Selatan yang sukses menekan angka kematian akibat penyakit jantung melalui strategi Triple 80.

"Korea berhasil karena menerapkan pendekatan Triple 80, 80 persen warga diskrining, 80 persen penderita diobati, dan 80 persen dari yang diobati itu berhasil sembuh atau kondisinya terkendali. Arah sistem kesehatan itulah yang sedang kita bangun di Indonesia," jelas dia.

Di sisi lain, Budi juga mengungkapkan rasa optimistis terkait peningkatan partisipasi masyarakat dalam melakukan CKG. Pemerintah menargetkan sebanyak 130 juta masyarakat Indonesia dapat terlayani program CKG ini hingga akhir tahun 2026 khususnya dengan memanfaatkan momentum tahun ajaran baru yang tengah berlangsung sata ini.

"Tujuan kita bukan sekadar mengumpulkan data siapa yang sakit, tetapi memastikan masyarakat kita tetap sehat, bugar, dan produktif. Cek Kesehatan Gratis ini adalah investasi jangka panjang untuk masa depan bangsa," pungkas Budi.

Topik Menarik