AI dan Deepfake Makin Canggih, KADIN Minta Perbankan Perkuat Keamanan Siber

AI dan Deepfake Makin Canggih, KADIN Minta Perbankan Perkuat Keamanan Siber

Ekonomi | inews | Selasa, 7 Juli 2026 - 16:31
share

JAKARTA, iNews.id – Ketua Komite Tetap Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Jakarta sekaligus Co-Founder Asosiasi Pemimpin Digital Indonesia (APDI) Arif Ilham Adnan mengingatkan perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan teknologi deepfake meningkatkan risiko penipuan di sektor jasa keuangan.

Arif menilai, kondisi tersebut menuntut perbankan dan lembaga keuangan memperkuat perlindungan siber sekaligus menjaga kepercayaan nasabah.Meski transformasi digital membawa banyak manfaat bagi industri perbankan, pertumbuhan transaksi digital juga memunculkan ancaman baru berupa AI-powered fraud yang semakin canggih.  

"Ancaman yang kini dihadapi bukan hanya serangan siber biasa, tetapi juga penipuan berbasis AI seperti deepfake, synthetic identity, hingga social engineering yang semakin kompleks," ujarnya dalam acara World AI Show Indonesia di Jakarta, Selasa (7/7/2026).

Menurut Arif, penggunaan teknologi verifikasi identitas seperti liveness detection menjadi semakin penting untuk memastikan identitas pengguna benar-benar asli dan mencegah penyalahgunaan teknologi AI.

Ia mengutip data dari Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) yang menunjukkan Indonesia menghadapi sekitar empat miliar anomali siber pada semester pertama tahun lalu, dengan nilai kerugian yang dilaporkan mencapai sekitar Rp8 triliun.

Meski demikian, Arif menilai risiko terbesar yang dihadapi industri keuangan saat ini bukan semata-mata ancaman siber, melainkan hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap lembaga keuangan.

"Semakin digital sistem keuangan, semakin besar pula peran kepercayaan sebagai aset utama. Risiko terbesar saat ini adalah trust risk atau risiko terhadap kepercayaan," katanya.

Ia menjelaskan bahwa nasabah mungkin masih dapat memaklumi gangguan layanan untuk sementara waktu. Namun, pelanggaran terhadap keamanan data maupun hilangnya kepercayaan akan jauh lebih sulit dimaafkan.

Berdasarkan survei APDI, lanjut Arif, keamanan siber dan perlindungan data kini menjadi pertimbangan utama masyarakat dalam memilih layanan keuangan digital. Faktor tersebut bahkan mengungguli kemudahan penggunaan, kelengkapan fitur, maupun berbagai promosi yang ditawarkan penyedia layanan.

Karena itu, Arif menegaskan bahwa isu kepercayaan tidak lagi cukup ditangani oleh divisi teknologi informasi atau keamanan siber semata. Menurutnya, digital trust harus menjadi agenda strategis yang mendapat perhatian langsung dari jajaran direksi dan dewan komisaris.

Ia menyebut para pemimpin industri keuangan perlu memiliki pemahaman yang memadai mengenai AI, keamanan siber, tata kelola data, regulasi, hingga strategi ekosistem digital agar mampu menghadapi tantangan baru di era transformasi digital.

Di sisi lain, Arif mengingatkan Indonesia memiliki peluang besar untuk terus mengembangkan ekonomi digital. Dengan proyeksi nilai ekonomi digital yang terus meningkat dan masih adanya sekitar 75 juta penduduk yang belum tersentuh layanan perbankan, industri jasa keuangan memiliki ruang pertumbuhan yang luas.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa keberhasilan transformasi digital tidak akan ditentukan oleh siapa yang paling cepat mengadopsi teknologi.

"Teknologi bisa dibeli, modal bisa dicari, produk bisa ditiru. Tetapi kepercayaan harus dibangun dan tidak bisa dibeli. Pada akhirnya, masa depan sektor keuangan akan ditentukan oleh siapa yang mampu tetap dipercaya di tengah proses digitalisasi," ujar Arif.

Topik Menarik