Defisit APBN 2026 Diprediksi Bengkak Jadi Rp734,3 Triliun, Setara 2,85 PDB

Defisit APBN 2026 Diprediksi Bengkak Jadi Rp734,3 Triliun, Setara 2,85 PDB

Ekonomi | sindonews | Selasa, 7 Juli 2026 - 17:24
share

Pemerintah memproyeksikan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 akan melebar menjadi Rp734,3 triliun atau setara 2,85 terhadap produk domestik bruto (PDB). Proyeksi tersebut lebih tinggi dibandingkan target awal dalam APBN 2026 yang sebesar Rp689,1 triliun atau 2,68 dari PDB.

"Outlook defisit APBN tercatat sebesar Rp734,3 triliun dengan persentase sebesar 2,85 terhadap PDB," ujar Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam rapat kerja bersama Badan Anggaran DPR, Selasa (7/7/2026).

Baca Juga:Defisit APBN April 2026 Sentuh Rp164,4 T, Belanja Negara Meroket jadi Rp1.082,8 Triliun

Purbaya menjelaskan, hingga akhir Semester I-2026 defisit APBN tercatat sebesar Rp196,5 triliun atau 0,76 terhadap PDB. Angka tersebut meningkat dibandingkan posisi akhir Mei 2026 yang sebesar Rp180,4 triliun atau 0,70 terhadap PDB. Meski demikian, secara tahunan kondisi tersebut membaik dibandingkan Semester I-2025 yang mencatat defisit 0,84 terhadap PDB.

Menurut Purbaya, kondisi tersebut menunjukkan defisit APBN masih berada dalam batas aman dan tetap terkendali. Pemerintah akan terus menjaga keseimbangan fiskal di tengah kebutuhan belanja negara yang meningkat untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.

Dari sisi pendapatan, realisasi penerimaan negara hingga akhir Juni 2026 mencapai Rp1.459,4 triliun atau 46,3 dari target APBN sebesar Rp3.153,6 triliun. Capaian tersebut tumbuh 21,4 dibandingkan periode yang sama tahun lalu, didorong peningkatan aktivitas ekonomi, penguatan pengawasan, serta perbaikan tata kelola perpajakan, kepabeanan, dan layanan kementerian, lembaga, serta Badan Layanan Umum (BLU).

Pendapatan negara tersebut terdiri atas penerimaan perpajakan sebesar Rp1.187,8 triliun atau 44,1 dari target APBN dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp271 triliun atau 59 dari target. Keduanya masing-masing tumbuh 21,4 dan 21,6 secara tahunan.

Purbaya menyoroti kinerja penerimaan pajak yang meningkat 24,6 pada Semester I-2026, berbalik dari kontraksi 7 pada periode yang sama tahun lalu. Menurut dia, perbaikan tersebut menunjukkan reformasi perpajakan, organisasi, dan sumber daya manusia di lingkungan otoritas pajak mulai memberikan hasil yang positif.

Baca Juga:Defisit APBN Maret 2026 Tembus Rp240,1 Triliun, 0,93 dari PDBDi sisi belanja, realisasi belanja negara hingga akhir Juni 2026 mencapai Rp1.656 triliun atau 43,1 dari pagu APBN, meningkat 17,8 dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Belanja Pemerintah Pusat terealisasi sebesar Rp1.296,8 triliun atau 41,2 dari pagu, dengan pertumbuhan 29,4 secara tahunan.

Melalui perkembangan tersebut, keseimbangan primer APBN hingga Semester I-2026 masih mencatat surplus sebesar Rp85,1 triliun. Sementara itu, realisasi pembiayaan anggaran telah mencapai Rp452 triliun atau 65,6 dari target APBN 2026.

Pemerintah menilai kombinasi pertumbuhan pendapatan negara, surplus keseimbangan primer, dan pengelolaan pembiayaan yang terjaga menjadi modal untuk menjaga keberlanjutan fiskal, meski defisit APBN pada akhir tahun diperkirakan lebih tinggi dari target awal.

Topik Menarik