BRI Bantu Taman Dahlia Penuhi Gizi Anak, Hasil Panen Disuplai ke Dapur MBG

BRI Bantu Taman Dahlia Penuhi Gizi Anak, Hasil Panen Disuplai ke Dapur MBG

Ekonomi | inews | Rabu, 24 Juni 2026 - 20:29
share

JAKARTA, iNews.id - Taman Urban Farming Dahlia berdiri di tengah permukiman padat penduduk RW 07 Kelurahan Cempaka Putih Barat, Kecamatan Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Kebun yang dikelola secara gotong royong oleh warga itu telah berkembang pesat sejak awal 2020-an.

Pemanfaatan lahan yang semula terbengkalai tersebut tak hanya berdampak positif bagi masyarakat sekitar. Taman Urban Farming Dahlia turut berkontribusi pada pemenuhan gizi anak lewat program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Hasil panen kebun membantu mencukupi pasokan sayuran Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Cempaka Putih Timur 2. Baru-baru ini, sebanyak 28 kilogram sayuran pakcoy dijual ke SPPG tersebut.

"Terakhir kita panen pakcoy itu 28 kilogram kita jual ke SPPG. Lumayan itu kemarin SPPG Cempaka Putih Timur 2," kata Pengurus Taman Urban Farming Dahlia, Sukarni saat ditemui iNews.id pada Senin (22/6/2026).

Sukarni menjelaskan pakcoy tersebut ditanam secara konvensional dengan masa tanam sekitar 1,5 bulan hingga siap dipanen. 

Dia memastikan pakcoy dan seluruh tanaman di Taman Urban Farming Dahlia dibudidayakan secara ramah lingkungan. Seluruh tanaman di kebun ditanam tanpa pupuk kimia maupun pestisida sintetis.

"Kita ini termasuk tanaman organik, karena kita tidak menggunakan urea atau NPK. Paling pupuk kandang saja," ujarnya.

Sementara untuk mengatasi serangan hama, pengurus Taman Urban Farming Dahlia memanfaatkan bahan alami. Ramuan air bawang putih menjadi senjata untuk mengusir hama kutu yang sempat menyerang tanaman.

Sejumlah pengurus Taman Urban Farming Dahlia bersama Tim SPPG Cempaka Putih 2 memanen sayuran pakcoy. (Foto: Dokumentasi)

Sukarni menilai penjualan hasil panen ke SPPG menjadi perkembangan positif bagi kebun yang selama ini dikelola warga secara gotong royong. Sebab, selama bertahun-tahun hasil panen lebih banyak dibagikan kepada warga dan pengurus, sementara sebagian lainnya dijual untuk menjaga keberlangsungan kebun.

Meski mampu menghasilkan berbagai komoditas pertanian, Sukarni mengakui keuntungan belum menjadi tujuan utama pengelola kebun. Menurut dia, hasil penjualan biasanya kembali digunakan untuk kebutuhan operasional seperti membeli bibit tanaman baru dan pupuk.

"Paling kita kelola putus, (keuntungan) Rp100.000-200.000. Kemudian kita belikan lagi untuk kompos, beli bibit lagi," ujarnya.

Saat ini, berbagai jenis tanaman tumbuh di Taman Urban Farming Dahlia. Selain pakcoy, warga juga menanam sawi, kangkung, terong, hingga tanaman herba seperti jahe, kunyit, dan temulawak.

Khusus pakcoy, tanaman tersebut dibudidayakan secara konvensional maupun hidroponik. Sukarni menyebut hasil hidroponik memiliki tekstur yang berbeda.

"Kalau di hidroponik itu karena air ya, lebih crunchy, garing, tapi gampang patah. Harus lebih hati-hati dari konvensional," katanya.

Pengurus Taman Urban Farming Dahlia mengemas sayuran pakcoy yang telah dipanen. (Foto: Dokumentasi)

Berkembang lewat Dukungan BRI

Pendampingan program BRInita menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan Taman Urban Farming Dahlia. Sebelum mendapatkan dukungan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) BRI melalui BRI Bertani di Kota (BRInita) pada 2022 lalu, pengelolaan kebun tersebut lebih banyak bertumpu pada gotong royong dan iuran warga.

Kondisi tersebut membuat pengembangan kebun berjalan secara bertahap karena keterbatasan sarana dan biaya. Sukarni mengaku warga harus memutar hasil penjualan panen yang jumlahnya tidak seberapa untuk membeli kembali bibit maupun kebutuhan tanam lainnya.

"Terus terang yang namanya swadaya kan berat, kita ngeluarin modal itu lumayan berat. Karena hasilnya kan enggak seberapa," ujarnya.

Setelah memperoleh dukungan BRInita, berbagai fasilitas penunjang mulai tersedia di kawasan kebun. Mulai dari bibit tanaman, kolam ikan, gazebo, pagar, bedeng tanam, kanopi shelter, pompa air hingga mesin pencacah yang membantu pengelolaan kebun sehari-hari.

Selain pembangunan sarana, para pengurus juga dibekali pengetahuan budidaya tanaman melalui pelatihan dari BRInita. Materi yang diberikan mencakup teknik penanaman hingga perawatan tanaman agar hasil panen lebih optimal.

Pengurus Taman Urban Farming Dahlia, Sukarni. (Foto: Rizky Agustian)

"Dulu ada soal bercocok tanam dari BRI. Misalnya cara nanam, cara memelihara tanaman yang benar," kata Sukarni.

Dampak Positif Dirasakan Warga Sekitar

Taman Urban Farming Dahlia juga memiliki fungsi lain yang tak kalah penting. Kebun tersebut perlahan berkembang menjadi ruang bersama bagi masyarakat RW 07 Cempaka Putih Barat.

Sukarni mengatakan hasil panen bukanlah satu-satunya manfaat yang diperoleh dari keberadaan Taman Urban Farming Dahlia. Dia justru melihat semakin kuatnya hubungan antarwarga sejak aktivitas berkebun dilakukan bersama-sama.

"Pertama di sini yang bisa kita ambil itu keguyuban. Karena dengan adanya saung di sini bisa jadi tempat kumpul (warga), makan bareng misalnya," tutur Sukarni.

Saung yang berada di tengah kebun kerap menjadi tempat warga berbincang dan berkumpul. Aktivitas itu membuat lahan yang dulunya terbengkalai kini memiliki peran baru sebagai ruang sosial bagi masyarakat sekitar.

Tak hanya untuk orang dewasa, kebun tersebut juga menjadi sarana belajar bagi anak-anak. Sukarni yang sehari-hari mengajar PAUD rutin mengenalkan proses bercocok tanam kepada para murid melalui kegiatan praktik langsung di kebun.

Melalui kegiatan itu, anak-anak diajak belajar langsung bagaimana menanam, merawat, hingga memanen sayuran yang tumbuh di lingkungan mereka.

"Kalau misalnya kita sudah mau panen, ada PAUD yang pengen ke sini, yaudah kita bawa mereka ke sini, kita ajarkan gini lho cara kita panen. Misal mau menanam, kita kasih polybag, kita kasih bibit," kata Sukarni.

Keberadaan kebun yang semakin berkembang itu tidak hanya dirasakan oleh para pengurus. Warga sekitar juga ikut menikmati hasilnya, baik melalui pembagian hasil panen maupun berbagai aktivitas yang rutin digelar di lokasi tersebut.

"Lumayanlah, apalagi buat warga RW ya, ada panen-panen gitu bagi-bagi ke warga. Ada juga yang dijual. Hasil panen-panen, ada ikan lele, sayuran," ujar warga setempat, Erwin.

Menurut dia, Taman Urban Farming Dahlia kini menjadi salah satu pusat kegiatan warga di lingkungan RW 07. Beragam pelatihan dan aktivitas komunitas kerap digelar di lokasi tersebut sehingga membuat kebun semakin hidup.

"Sering ada kegiatan di sini. Ada pelatihan juga dari pihak BRI, kerja sama dengan pihak BRI juga. Adalah kegiatan aktif banget," katanya.

Corporate Secretary BRI Dhanny mengatakan BRI terus menegaskan komitmennya dalam mendukung keberlanjutan lingkungan melalui program urban farming.

Menurut dia, hasil kegiatan urban farming tidak hanya memberikan manfaat ekonomi bagi kelompok tani, tetapi juga berdampak langsung bagi masyarakat sekitar.

"Panen bisa dipakai untuk pangan keluarga, dijual untuk tambah penghasilan, atau ditukar dalam program sosial sebagai apresiasi," ujar Dhanny.

Dia menambahkan, program BRInita diharapkan mampu mengurangi polusi, menambah ruang hijau perkotaan, sekaligus mendukung tercapainya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) atau Sustainable Development Goals (SDGs).

"Bersama, kita wujudkan kota yang sehat dan berkelanjutan, demi masa depan pangan yang lebih baik untuk seluruh generasi," ucapnya.

Topik Menarik