IHSG Turun 3 Persen Imbas Sentimen MSCI, Rupiah Kembali ke Rp17.950 per USD

IHSG Turun 3 Persen Imbas Sentimen MSCI, Rupiah Kembali ke Rp17.950 per USD

Ekonomi | idxchannel | Rabu, 24 Juni 2026 - 15:38
share

IDXChannel - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melemah signifikan setelah gagal mempertahankan penguatan di awal perdagangan, Rabu (24/6/2026).

Tekanan jual meningkat seiring respons negatif investor terhadap hasil MSCI 2026 Market Classification Review yang masih mempertahankan Indonesia sebagai pasar berkembang (Emerging Market), namun memperpanjang masa evaluasi terkait reformasi pasar.

Berdasarkan Bursa Efek Indoensia (BEI), pukul 15.17 WIB, IHSG terkoreksi 3,07 persen ke level 5.914,20.

Penurunan ini, mengutip analisis BRI Danareksa, seiring indeks acuan tersebut tidak mampu menembus area resistance 6.200-6.300. Indeks pun kembali bergerak di bawah level psikologis 6.000.

Secara teknikal, BRI Danareksa melihat IHSG berpotensi menguji area support berikutnya di kisaran 5.930-5.820.

Sementara itu, area resistance berada pada level 6.070-6.200.

Meski mengalami koreksi, indikator MACD masih berada di zona positif sehingga tren pemulihan jangka pendek belum sepenuhnya berakhir.

Sentimen negatif pasar terutama berasal dari hasil evaluasi MSCI yang kembali menyoroti sejumlah isu di pasar modal Indonesia, mulai dari transparansi kepemilikan saham, validitas data free float, hingga dugaan coordinated trading.

MSCI menyatakan Indonesia masih dapat menghadapi konsultasi terkait kemungkinan penurunan status menjadi Frontier Market apabila reformasi pasar tidak menunjukkan kemajuan yang memadai hingga November 2026.

Tekanan terhadap IHSG juga diperberat oleh aksi ambil untung (profit taking) pada sejumlah saham berkapitalisasi besar.

Saham seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), dan PT Sinarmas Multiartha Tbk (SMMA) menjadi pemberat utama indeks.

Di pasar valuta, rupiah turut mengalami tekanan. Mata uang Garuda melemah 0,49 persen ke level Rp17.950 per USD, mendekati kembali level psikologis Rp18.000 per USD.

BRI Danareksa menilai tekanan terhadap rupiah dipengaruhi oleh penguatan dolar AS setelah data ekonomi Negeri Paman Sam menunjukkan ketahanan ekonomi yang meningkatkan ekspektasi suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama (higher for longer).

Selain faktor eksternal, sentimen domestik juga masih terbebani oleh ketidakpastian terkait evaluasi MSCI.

Investor asing dinilai masih berhati-hati karena reformasi pasar modal Indonesia belum sepenuhnya mengembalikan kepercayaan dan membalikkan tren arus keluar modal.

Selanjutnya, perhatian pasar akan tertuju pada rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat.

Data tersebut berpotensi menjadi salah satu penentu arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) serta pergerakan dolar AS dalam jangka pendek. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Topik Menarik