Makan Bawang dan Jengkol Bikin Bau Badan, Mitos atau Fakta?

Makan Bawang dan Jengkol Bikin Bau Badan, Mitos atau Fakta?

Gaya Hidup | inews | Jum'at, 19 Juni 2026 - 13:45
share

JAKARTA, iNews.id – Benarkah makan bawang dan jengkol bisa bikin bau badan? Pertanyaan ini kerap menjadi perdebatan. Namun menurut dokter umum sekaligus influencer kesehatan, Tirta Mandira Hudhi alias dr Tirta, kondisi tersebut bukan sekadar mitos, melainkan dapat dijelaskan secara medis melalui proses kimia yang terjadi di dalam tubuh.

dr Tirta menjelaskan, bawang-bawangan termasuk dalam kelompok tanaman allium yang mengandung senyawa sulfur seperti alisin dan alil metil sulfit (AMS). Senyawa tersebut tidak dapat dicerna tubuh dengan cepat sehingga masuk ke aliran darah dan akhirnya keluar melalui pernapasan maupun keringat.

"Senyawa sulfur ini kan dibawa ke paru-paru lewat pertukaran gas alveolus dan juga ke kelenjar keringat. Sehingga ketika keringat, selama senyawa AMS ini tidak dikoordinasi dengan baik oleh pencernaan dan hati atau hepar, maka AMS ini akan juga keluar lewat bau, bau mulut, pernafasan, dan akan keluar lewat pori-pori kulit ketika kita berkeringat," kata dr Tirta, dikutip Jumat (19/6/2026).

Menurutnya, bakteri yang hidup di permukaan kulit kemudian memecah senyawa AMS tersebut dan menghasilkan aroma tajam khas bawang. Bau tersebut bahkan bisa bertahan hingga satu sampai dua hari setelah mengonsumsi bawang, tergantung kondisi pencernaan dan fungsi hati seseorang.

Selain bawang, dr Tirta juga menyoroti jengkol yang memiliki kandungan senyawa sulfur dengan mekanisme serupa. Namun, efeknya lebih dominan memengaruhi aroma urine dibandingkan bau badan.

"Untuk jengkol sendiri, dampaknya tuh lebih besar ke urin. Kalau kamu konsumsi jengkol itu terlalu banyak, itu bisa membuat urin beraroma sangat menyengat dan pesing," ujarnya.

Tak hanya itu, konsumsi jengkol berlebihan juga berpotensi menimbulkan masalah kesehatan yang lebih serius. dr Tirta mengingatkan adanya risiko keracunan asam jengkolat yang dapat membentuk kristal dan menyumbat saluran kemih.

Kondisi tersebut berisiko memicu acute kidney injury atau cedera ginjal akut. Sebab itu, konsumsi jengkol sebaiknya tetap dalam batas wajar agar tidak menimbulkan gangguan kesehatan.

dr Tirta menambahkan, tingkat bau badan setelah mengonsumsi bawang atau jengkol tidak sama pada setiap orang. Hal ini dipengaruhi oleh aktivitas enzim flavin containing monooxygenase (FMO3) di hati yang berfungsi memecah senyawa sulfur.

"Kalau aktivitas hepar-nya proper, maka bau badannya akan cepat hilang dan tergantung dari mikrobioma kulit. Kalau orang yang kemproh (kurang menjaga kebersihan) maka bakteri akan banyak, sehingga ketika keringat dan bau bawang, ya orangnya akan semakin bau bawang," katanya.

Munculnya bau badan setelah mengonsumsi bawang atau jengkol bukan berarti seseorang tidak menjaga kebersihan diri. Fenomena tersebut merupakan bagian dari proses metabolisme alami tubuh. Meski demikian, menjaga kebersihan kulit dan mengatur pola makan tetap penting untuk membantu mengurangi aroma yang muncul.

Topik Menarik