Pulau Antartika Australia Diserang Flu Burung, Ribuan Anak Anjing Laut Mati!
HEARD, iNews.id – Wabah flu burung H5N1 dilaporkan menghantam wilayah Pulau Heard dan McDonald, kawasan terpencil milik Australia di sub-Antartika, dan menyebabkan kematian massal pada populasi anak anjing laut.
Penelitian terbaru menunjukkan lebih dari 75 persen anak anjing laut di Pulau Heard telah mati akibat virus tersebut sejak Agustus tahun lalu.
Pulau Heard dan McDonald yang berjarak sekitar 4.000 kilometer dari barat daya Australia diketahui menjadi habitat bagi lebih dari satu juta burung laut dan mamalia laut yang berkembang biak di kawasan tersebut.
Menurut laporan BBC, berdasarkan data survei drone dan kunjungan lapangan pada Oktober 2025 hingga Januari 2026, para ilmuwan memperkirakan sekitar 13.359 anak anjing laut dari total 17.364 populasi di Pulau Heard telah mati. Tingkat kematian ini disebut masih bisa bertambah karena sejumlah anak anjing laut masih terus mati saat pengamatan dilakukan.
Di beberapa lokasi, tingkat kematian bahkan mencapai 97 persen, menjadikan peristiwa ini sebagai salah satu dampak paling parah flu burung terhadap mamalia laut di wilayah tersebut.
Selain anjing laut, penelitian juga menemukan peningkatan kematian pada beberapa spesies penguin, termasuk king penguin dan gentoo penguin, meski dampaknya tidak separah pada anak anjing laut.
Dari sembilan spesies yang diuji, enam di antaranya dinyatakan positif terinfeksi H5N1, termasuk anjing laut gajah selatan, anjing laut berbulu Antartika, serta sejumlah burung laut seperti petrel penyelam.
Namun, tidak ditemukan pola kematian tidak normal pada populasi albatros maupun beberapa spesies endemik di kawasan tersebut.
Peneliti menduga virus kemungkinan besar masuk melalui burung migran yang berasal dari Kepulauan Crozet milik Prancis, yang berjarak sekitar 1.800 kilometer dari lokasi kejadian.
"Temuan ini merupakan deteksi pertama H5 di wilayah eksternal Australia dan menunjukkan pergerakan virus yang terus menyebar ke arah timur di kawasan sub-Antartika," ujar peneliti utama, ahli biologi satwa liar Dr. Julie McInnes, dikutip Kamis (18/6/2026).
Ia menambahkan, pola dampak yang terjadi mirip dengan kasus di Pulau Georgia Selatan, di mana anjing laut gajah juga menjadi spesies yang paling terdampak.
Menteri Lingkungan Australia, Murray Watt, menyebut peristiwa ini sebagai kondisi yang 'mengkhawatirkan' dan menjadi peringatan bahwa Australia harus meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan penyebaran virus ke daratan utama.
Australia sendiri hingga kini masih menjadi satu-satunya benua yang belum mencatat kasus H5N1 yang telah menyebar luas secara global pada populasi burung dan mulai menginfeksi sejumlah mamalia.









