Polrestabes Surabaya Bongkar Jaringan Scamming Internasional, Korban Diduga Ribuan Orang

Polrestabes Surabaya Bongkar Jaringan Scamming Internasional, Korban Diduga Ribuan Orang

Nasional | inews | Rabu, 17 Juni 2026 - 21:51
share

SURABAYA, iNews.id – Polrestabes Surabaya terus mengembangkan kasus scamming atau penipuan daring jaringan internasional yang melibatkan warga negara asing. Jumlah tersangka dalam kasus ini bertambah menjadi 45 orang setelah polisi kembali menangkap seorang warga negara China yang diduga berperan sebagai koordinator jaringan di wilayah Solo, Bali, dan Surabaya.

Pengungkapan kasus tersebut dilakukan Polrestabes Surabaya bekerja sama dengan Interpol serta kepolisian China dan Jepang. Polisi menduga jumlah korban dalam kasus ini mencapai ribuan orang dan seluruhnya merupakan warga negara asing.

Dari total 45 tersangka yang diamankan, sebanyak 31 orang merupakan warga negara China, tujuh warga negara Taiwan, empat warga negara Jepang, serta tiga warga negara Indonesia. 

Sementara tersangka terbaru yang ditangkap merupakan warga negara China yang diduga memiliki peran penting dalam mengoordinasikan aktivitas penipuan di sejumlah wilayah di Indonesia.

Berdasarkan hasil penyelidikan, para pelaku menjalankan aksinya dari Surabaya dengan menyasar warga negara asing, terutama para pengusaha yang dinilai memiliki kondisi ekonomi mapan. Dalam menjalankan aksinya, pelaku diduga menyamar sebagai aparat kepolisian untuk menakut-nakuti dan memeras korban.

Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Luthfie Sulistiawan mengatakan, penyidik masih terus mendalami jaringan tersebut guna mengungkap kemungkinan adanya pelaku lain yang terlibat serta memperkirakan jumlah kerugian yang ditimbulkan.

"Kita berkomitmen bahwa penyidikan ini akan kita tuntaskan dan kita bekerja sama difasilitasi oleh Hubinter, kepolisian Jepang dan juga kepolisian China," ujar Kombes Pol Luthfie Sulistiawan.

Dalam pengungkapan kasus ini, polisi menyita sejumlah barang bukti berupa puluhan telepon genggam, laptop, dan buku tabungan yang diduga digunakan untuk mendukung aktivitas penipuan.

Saat ini, seluruh tersangka masih menjalani pemeriksaan intensif. Polisi juga terus berkoordinasi dengan pihak berwenang di sejumlah negara untuk mengidentifikasi para korban dan menelusuri aliran dana hasil kejahatan tersebut.

Topik Menarik