Bau Badan Tak Hilang Meski Pakai Deodorant, Dokter Ungkap Penyebabnya

Bau Badan Tak Hilang Meski Pakai Deodorant, Dokter Ungkap Penyebabnya

Gaya Hidup | inews | Sabtu, 13 Juni 2026 - 14:37
share

JAKARTA, iNews.id – Bau badan tak hilang meski sudah rutin mandi, menggunakan deodorant, hingga parfum sering kali membuat seseorang merasa tidak percaya diri. Banyak yang mengira kondisi tersebut terjadi karena kurang menjaga kebersihan tubuh, padahal dalam beberapa kasus penyebabnya bisa berasal dari gangguan kesehatan.

Dokter sekaligus influencer kesehatan, dr Aditya Surya Pratama, mengungkapkan ada penyakit langka bernama Trimethylaminuria yang dapat menyebabkan tubuh mengeluarkan aroma amis menyerupai ikan busuk. Kondisi ini terjadi akibat tubuh tidak mampu mengolah senyawa Trimethylamine (TMA) dengan baik.

Menurut dr Aditya, senyawa TMA terbentuk saat tubuh mencerna makanan tertentu. Dalam kondisi normal, zat tersebut akan diubah menjadi bentuk yang tidak berbau oleh enzim FMO3 yang berada di hati.

“Normalnya enzim FMO3 di hati itu mengubah TMA menjadi Trimethylamine N-Oxide di mana bentuk yang tidak berbau. Tapi pada penderita ini si enzim FMO3 ini dia rusak atau tidak aktif sehingga TMA menumpuk di dalam tubuh dan keluar lewat keringat, nafas, urin atau cairan reproduksi,” kata dr Aditya, dikutip Jumat (12/6/2026).

Akibat gangguan tersebut, TMA menumpuk di dalam tubuh dan akhirnya dikeluarkan melalui berbagai cairan tubuh. Kondisi inilah yang membuat aroma amis tetap muncul meski penderita sudah menggunakan produk perawatan tubuh untuk menghilangkan bau badan.

Dia menjelaskan, penyebab utama Trimethylaminuria adalah mutasi pada gen FMO3. Beberapa penelitian menunjukkan gangguan pada gen tersebut dapat membuat kadar TMA dalam tubuh meningkat hingga 10 sampai 50 kali lipat dibandingkan orang normal.

“Sehingga bau yang keluar sangat kuat dan khas seperti ikan busuk,” ucapnya.

Gejala penyakit ini dapat semakin parah apabila penderita mengonsumsi makanan yang mengandung kolin dan senyawa nitrogen dalam jumlah tinggi. Makanan seperti seafood, telur, hati, dan kacang-kacangan diketahui dapat memicu peningkatan produksi TMA.

Selain faktor makanan, kondisi emosional juga berpengaruh terhadap munculnya gejala. Stres dan kecemasan berlebihan disebut dapat memperburuk bau amis yang dikeluarkan tubuh.

Meski belum dapat disembuhkan secara genetik, gejala Trimethylaminuria masih bisa dikendalikan melalui sejumlah langkah penanganan. Salah satunya dengan menerapkan pola makan rendah kolin dan TMA untuk mengurangi produksi senyawa penyebab bau.

Dokter juga dapat memberikan antibiotik dosis rendah seperti metronidazol atau neomycin guna menekan jumlah bakteri usus yang menghasilkan TMA. Selain itu, penggunaan activated charcoal dinilai membantu mengikat TMA di saluran pencernaan sehingga mengurangi jumlah zat yang terserap ke dalam tubuh.

“Yang ketiga, activated charcoal di mana yang membantu mengikat TMA di usus. Dan yang keempat, gunakan sabun mandi yang punya pH seimbang. Di mana ini untuk mengurangi pelepasan TMA via kulit,” ujar dr Aditya.

Di balik gejala fisiknya, dampak terbesar penyakit ini justru sering dirasakan pada kesehatan mental penderitanya. Banyak pasien mengalami tekanan psikologis karena kerap mendapat stigma negatif dari lingkungan sekitar.

“Jadi ada studi yang menemukan bahwa lebih dari 70 persen pasien ini mengalami penurunan kualitas hidup, mengalami kecemasan sosial bahkan sampai depresi. Karena apa? Karena sering dianggap jorok atau tidak menjaga kebersihan,” kata dr Aditya.

Karena itu, selain penanganan medis, dukungan keluarga dan lingkungan sekitar menjadi faktor penting dalam membantu penderita menghadapi penyakit tersebut. Pendampingan psikologis juga diperlukan agar pasien dapat menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih nyaman dan percaya diri.

Topik Menarik