Harga Pertamax Naik Banyak Pengendara Beralih ke Pertalite, Ini Dampaknya bagi Mesin Kendaraan

Harga Pertamax Naik Banyak Pengendara Beralih ke Pertalite, Ini Dampaknya bagi Mesin Kendaraan

Otomotif | inews | Kamis, 11 Juni 2026 - 14:32
share

JAKARTA, iNews.id - Kenaikan harga BBM Pertamax (RON 92) dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter di wilayah DKI Jakarta membuat sebagian pemilik kendaraan mulai beralih ke Pertalite (RON 90). Padahal, banyak kendaraan keluaran terbaru direkomendasikan menggunakan bahan bakar dengan nilai oktan minimal RON 92 agar performa mesin tetap optimal.

Peralihan ke bahan bakar dengan nilai oktan lebih rendah memang dapat mengurangi pengeluaran harian. Namun, penggunaan bensin yang tidak sesuai spesifikasi mesin dalam jangka panjang berpotensi menimbulkan berbagai masalah pada kendaraan.

Dilansir dari Suzuki, salah satu dampak yang paling umum adalah munculnya deposit karbon pada kepala piston dan katup mesin. Kerak karbon tersebut terbentuk akibat proses pembakaran yang tidak berlangsung sempurna.

Penumpukan deposit karbon dapat menyebabkan kompresi mesin menurun sehingga performa kendaraan ikut berkurang. Jika kondisi ini terus dibiarkan, suhu mesin berisiko lebih cepat meningkat atau overheat dan konsumsi oli menjadi lebih boros.

Selain itu, komponen pada sistem emisi kendaraan modern seperti Oxygen Sensor dan Catalytic Converter juga dapat mengalami kerusakan lebih cepat akibat residu kimia hasil pembakaran. Biaya penggantian komponen tersebut umumnya jauh lebih mahal dibandingkan selisih harga bahan bakar yang dihemat setiap hari.

Perbedaan Nilai RON pada BBM

Di Indonesia, terdapat beberapa jenis bahan bakar dengan nilai oktan atau Research Octane Number (RON) yang berbeda. Nilai RON menunjukkan kemampuan bahan bakar menahan tekanan dan suhu tinggi sebelum terbakar di dalam ruang bakar.

Pertalite memiliki nilai RON 90 dan umumnya digunakan pada kendaraan dengan rasio kompresi di bawah 10:1. Bahan bakar ini lebih cocok untuk kendaraan dengan teknologi mesin yang tidak menghasilkan tekanan ruang bakar terlalu tinggi.

Sementara itu, Pertamax dengan RON 92 menjadi standar minimal yang direkomendasikan untuk mayoritas mobil dan sepeda motor keluaran terbaru. Bahan bakar ini ideal digunakan pada mesin dengan rasio kompresi sekitar 10:1 hingga 11:1.

Untuk kendaraan performa tinggi, tersedia BBM dengan RON 95 hingga RON 98 yang biasa digunakan pada mobil mewah, kendaraan berturbo, maupun motor berkapasitas besar dengan rasio kompresi di atas 12:1. Bahan bakar tersebut memiliki stabilitas lebih baik sehingga mampu menahan tekanan dan suhu ekstrem tanpa mengalami pembakaran dini.

Penggunaan bahan bakar yang sesuai dengan spesifikasi mesin akan membantu menghasilkan tenaga secara optimal. Pembakaran yang terjadi pada waktu yang tepat membuat energi dari proses pembakaran dapat mendorong piston secara maksimal.

Sebaliknya, penggunaan bensin dengan nilai oktan lebih rendah dari kebutuhan mesin dapat memicu pembakaran yang tidak stabil. Kondisi ini biasanya ditandai dengan suara mesin lebih kasar, tenaga berkurang, dan tarikan kendaraan terasa lebih berat, terutama saat melewati tanjakan.

Meski demikian, penggunaan bahan bakar dengan nilai oktan yang terlalu tinggi dari rekomendasi pabrikan juga tidak selalu memberikan manfaat tambahan. Dalam beberapa kasus, pembakaran bisa menjadi kurang optimal sehingga meninggalkan sisa bahan bakar yang mengotori ruang bakar.

Dari sisi efisiensi, bahan bakar dengan nilai oktan yang sesuai justru dapat membantu menghemat konsumsi BBM. Pembakaran yang lebih sempurna membuat energi tidak terbuang sia-sia sehingga pengemudi tidak perlu menginjak pedal gas lebih dalam untuk mendapatkan performa yang diinginkan.

Rasio kompresi merupakan perbandingan volume ruang bakar saat piston berada di titik terendah dan tertinggi. Semakin tinggi rasio kompresi, semakin besar pula tekanan dan suhu yang terjadi di dalam ruang bakar.

Sebab itu, mesin dengan teknologi modern, termasuk yang menggunakan turbocharger dan sistem injeksi canggih, membutuhkan bahan bakar dengan nilai oktan yang sesuai agar terhindar dari gejala knocking atau ledakan dini yang berpotensi merusak komponen internal mesin.

Memilih bahan bakar berdasarkan spesifikasi pabrikan bukan hanya soal menjaga performa kendaraan, tetapi juga menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko kerusakan dan biaya perawatan yang lebih besar di masa mendatang.

Topik Menarik