Viral Anggota OSIS SMP di Makassar Dikeroyok Teman Sekolah, Orang Tua Tempuh Proses Hukum
MAKASSAR, iNews.id - Seorang anggota Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) SMP di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, menjadi korban pengeroyokan teman sekolah usai menjalankan tugas sweeping atribut. Korban berinisial MAR (13) mengalami luka lebam di bagian kepala, wajah hingga pelipis.
Pengeroyokan ini terjadi di SMP Negeri 35 Makassar, Jalan Telegraf Utama, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar. Aksi kekerasan tersebut terekam video hingga viral di media sosial.
Dalam video, korban terlihat baru keluar dari ruang kelas. Tak lama kemudian, korban didatangi sekelompok siswa lain lalu dianiaya dengan cara dipukul. Korban yang terpojok tidak sempat melawan hingga jatuh tersungkur. Para pelaku kemudian kembali menganiaya korban dengan cara menendang.
Orang tua korban, Irma, mengatakan peristiwa itu terjadi setelah kegiatan belajar mengajar selesai. Saat itu, masih banyak siswa berada di lingkungan sekolah.
"Terjadi pemukulan dan pengeroyokan pada hari Jumat tanggal 5 Juli 2026 pukul 11.00 WITA. Saat itu sudah pulang sekolah namun para siswa masih banyak di sekolah," katanya, Senin (8/6/2026).
Irma menjelaskan, anaknya saat itu sedang menjalankan tugas sebagai anggota OSIS. Korban melakukan sweeping untuk menertibkan siswa yang tidak menaati aturan sekolah.
"Anak saya sebagai anggota OSIS melaksanakan tugasnya bahwa setiap hari tertentu dilakukan sweeping untuk menertibkan siswa nakal dan tidak taat aturan sekolah," ucapnya.
Menurut Irma, kejadian bermula saat anaknya sweeping sepatu yang tidak sesuai aturan sekolah. Korban kemudian membawa sepatu salah satu siswa ke ruang OSIS.
Namun, salah satu siswa SMP disebut tidak terima. Tak lama setelah itu, korban diduga dipukul secara tiba-tiba oleh beberapa siswa.
"Saat kejadian anak saya sweeping sepatu lalu bawa sepatu salah satu siswa ke ruang OSIS. Namun salah satu temannya tidak terima lalu secara tiba-tiba mereka memukul anakku sehingga tidak sempat melawan ada lima sampai tujuh orang," ujarnya.
Akibat pengeroyokan tersebut, korban mengalami luka lebam di beberapa bagian tubuh. Pihak keluarga kemudian melaporkan kejadian ini kepada sekolah agar para pelaku diproses sesuai aturan.
Irma mengaku tidak terima setelah melihat video pengeroyokan terhadap anaknya. Dia menilai tindakan para pelaku sudah sangat keterlaluan.
"Saya sebagai orang tua korban jelas tidak terima saat melihat video itu. Hati orang tua siapa yang bisa tahan melihat anaknya dipukul, ditendang, diinjak kepalanya," katanya.
Irma juga menyebut anaknya diperlakukan tidak adil. Dia meminta pihak sekolah mengambil tindakan tegas terhadap para pelaku pengeroyokan.
"Anak saya diperlakukan tidak adil seperti itu, diperlakukan seperti binatang. Saya akan laporkan para pelaku ke sekolah," ucapnya lagi.
Meski sudah melapor ke pihak sekolah, keluarga korban tetap berencana menempuh jalur hukum. Mereka ingin kasus ini diproses agar menjadi efek jera dan mencegah kejadian serupa terulang.
"Yang jelas kita tepat mau tempuh jalur hukum kepada para pelaku," ujarnya.
Selain itu, Irma menyampaikan dua tuntutan setelah anaknya menjadi korban pengeroyokan. Dia ingin anaknya tetap bisa bersekolah dengan tenang tanpa intimidasi. Dia juga meminta para pelaku perundungan diberi sanksi tegas. Irma juga berharap pihak sekolah serius menangani kasus kekerasan di lingkungan pendidikan.
"Ada dua tuntutan saya, pertama anak saya bisa sekolah dengan tenang dan tidak ada intimidasi. Kedua pelaku perundungan diberi sanksi perundungan dan sanksi tegas agar dikeluarkan dari sekolah. Saya minta kepala sekolah menindak hal ini," ucapnya.
Keluarga berharap langkah hukum dapat memberikan keadilan bagi korban. Mereka juga meminta sekolah memastikan keamanan siswa agar kegiatan belajar mengajar berjalan tanpa ancaman kekerasan.










