DEN Optimistis Pelemahan Rupiah Mereda pada Juli 2026, Ini Alasannya

DEN Optimistis Pelemahan Rupiah Mereda pada Juli 2026, Ini Alasannya

Terkini | inews | Selasa, 2 Juni 2026 - 21:35
share

JAKARTA, iNews.id - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS belakangan ini terus menjadi sorotan tajam. Namun, fenomena ini dinilai tidak boleh dilihat secara parsial karena merupakan bagian dari gejolak ekonomi yang juga melanda negara-negara Asia.

Tenaga Ahli Utama Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luthfi Ridho mengungkapkan pergerakan rupiah saat ini memiliki pola yang serupa dengan negara-negara peers seperti India, Filipina, dan Thailand. Meski secara persentase perubahan rupiah terlihat paling dalam, secara umum mata uang negara-negara tersebut juga tertekan akibat sentimen global.

Luthfi menjelaskan tekanan terhadap rupiah tidak hanya datang dari faktor eksternal, melainkan juga dipicu oleh lonjakan permintaan dolar di dalam negeri. Situasi yang disebutnya sebagai sentimen domestik ini terjadi akibat beberapa peristiwa besar yang jatuh pada waktu yang bersamaan.

"Nah domestik di sini itu terjadi karena berbagai macam event tersebut. Pertama ada dividen, bayar-bayar dividen dari sektor swasta, lalu ada musim haji, lalu ada impor BBM," ujar Luthfi dalam program Rakyat Bersuara bertajuk 'Perang Berkecamuk, Penyebab Rupiah Ambruk?' yang tayang di iNews, Selasa (2/6/2026).

Luthfi menekankan pemerintah terus berupaya merumuskan kebijakan agar iklim usaha dan kemudahan berbisnis di Indonesia semakin membaik. 

Meski saat ini rupiah sedang tertekan, dia optimistis tekanan tersebut akan mulai melandai secara fundamental pada Juli 2026 seiring dengan selesainya periode pembayaran dividen kepada investor asing.

"Nah menurut kita secara fundamental ini nanti akan melandai di sekitar bulan Juli ketika event bayar dividen selesai dividen, naik. Nah ini dividen itu adalah rencana pembayaran dividen. Ini adalah duit yang mau dibayarkan oleh Indonesia ke investor-investornya," katanya.

Lebih lanjut, dia memaparkan bagaimana transmisi konflik global memengaruhi pelemahan rupiah melalui jalur impor energi. Sebagai negara importir bahan bakar minyak (BBM), kenaikan harga minyak dunia otomatis menguras cadangan dolar di pasar domestik.

Dia memberikan ilustrasi jika kebutuhan mencapai 50 miliar barel, maka kenaikan harga minyak dari 90 ke 100 dolar AS per barel akan menambah beban biaya impor sebesar 10 dolar AS per barel.

Kondisi ini diperparah dengan aksi investor asing yang cenderung melepas aset-aset di Indonesia, baik di pasar saham maupun obligasi. Ketika permintaan dolar melonjak tajam sementara suplai di pasar valas domestik tidak mencukupi, hukum supply and demand pun berlaku yang akhirnya mengerek nilai dolar AS dan menekan rupiah.

Dalam menghadapi dinamika ini, pemerintah terus memantau pergerakan pasar untuk membedakan antara gangguan jangka pendek dan stabilitas jangka panjang. Fokus utama saat ini adalah memastikan kebijakan struktural tetap berjalan guna menjaga kepercayaan pasar dan daya saing nasional.

"Jangka pendek ini yang terkait dengan hot money, dengan arus keluar masuk ekspor impor. Nah yang jangka panjang ini yang lebih sifatnya fundamental, yang sifatnya kebijakan," kata Luthfi.

Topik Menarik