Teddy Ungkap Alasan Prabowo Kerap ke Luar Negeri: Dunia Sedang Krisis, Pemimpin Harus Bangun Hubungan

Teddy Ungkap Alasan Prabowo Kerap ke Luar Negeri: Dunia Sedang Krisis, Pemimpin Harus Bangun Hubungan

Terkini | inews | Senin, 1 Juni 2026 - 22:18
share

JAKARTA, iNews.id - Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya mengungkap alasan Presiden Prabowo Subianto kerap melakukan kunjungan ke luar negeri selama 1,5 tahun menjabat.

Teddy mengatakan, ketika Prabowo menjadi presiden, dunia tengah dilanda krisis. Dia menegaskan, Kepala Negara harus membangun hubungan dengan pemimpi negara lainnya.

“Masalah protokoler dan frekuensi ke luar negeri dalam 1,5 tahun terakhir. Jadi Presiden Prabowo itu adalah presiden baru yang mulai menjabat saat dunia sedang krisis,” ucap Teddy dalam tayangan video yang diunggah di Instagram @sekretariat.kabinet, Senin (1/6/2026)

“Sebelumnya ada konflik di Ukraina, ada di Venezuela, kemudian sekarang ada di Iran dan Timur Tengah, itu terlibat Saudi, Qatar, Bahrain, UAE, dan lain sebagainya, ya. Jadi setiap pemimpin tentunya harus bangun hubungan yang dekat antar pemimpin dunia,” tuturnya.

Teddy menambahkan, Indonesia tidak bisa hanya meminta bantuan kepada negara lain ketika sudah terjadi krisis. Presiden, kata dia, harus menjalin hubungan yang baik. Dengan begitu, ketika ada kondisi mendesak, Indonesia bisa meminta bantuan.

“Untuk itu perlu kedekatan pribadi, kedekatan emosional antar pemimpin, baik secara langsung diliput media atau pun tertutup. Nah, itulah diplomasi,” tuturnya.

Teddy menegaskan, salah besar jika kunjungan Prabowo ke luar negeri dianggap sebagai gagah-gagahan dan seremonial. Dia meminta masyarakat untuk melihat capaian yang sudah dilakukan selama 1,5 tahun terakhir.

Teddy turut memaparkan sejumlah capaian dari hasil nyata diplomasi Presiden Prabowo. Pertama, Indonesia bergabung ke dalam BRICS di tengah konflik krisis dunia.

“Manfaatnya apa? Ya sekarang ini, di tengah konflik krisis dunia, situasi negara terjamin. Stok BBM aman, harga BBM subsidi tidak naik. Stok pangan aman. Kemudian yang kedua, tarif 0 persen di Uni Eropa, ada 25 negara di situ,” ucapnya.

“Dan ini perjanjian yang sudah diurus belasan tahun yang lalu, tapi kapan tercapai? Ya zaman Presiden Prabowo, tepatnya tahun 2025 lalu,” tuturnya.

Ketiga, masuknya investasi senilai sekitar Rp2.430 triliun dalam 1,5 tahun terakhir. Teddy juga menyoroti hasil kunjungan Presiden ke Jepang dan Korea Selatan yang menghasilkan komitmen bisnis mencapai 33,89 miliar dolar AS atau setara Rp575 triliun.

Keempat, penguatan alat utama sistem persenjataan (alutsista) melalui kerja sama dengan sejumlah negara. Mulai dari Prancis, Amerika, Rusia, China, Inggris, dan negara Eropa lainnya.

Kelima, program ibadah haji tahun 2025 lalu dan tahun 2026. Teddy mengatakan, Indonesia adalah negara satu-satunya yang punya perkampungan haji di Arab Saudi. 

“Dan Saudi sendiri mengubah undang-undangnya agar suatu negara mempunyai lahan di situ untuk digunakan oleh jemaah haji,” ujarnya.

Keenam, keterlibatan aktif Indonesia dalam isu Palestina melalui pengiriman bantuan logistik udara, pengoperasian kapal rumah sakit, hingga pemberian beasiswa pendidikan bagi pelajar Palestina di Indonesia. 

Ketujuh, keberhasilan diplomasi pemerintah dalam memulangkan warga negara Indonesia yang sempat diamankan otoritas Israel di laut lepas beberapa waktu lalu.

“Dan ingat, yang tadi saya sampaikan adalah hasil konkret nyata 1,5 tahun terakhir. Dan semua itu adalah diplomasi yang dilakukan oleh Presiden Prabowo lewat berbagai macam cara, baik yang dipublikasikan, maupun tidak dipublikasikan. Karena yang terpenting bagi kami adalah hasil konkretnya,” katanya.

Topik Menarik