AS-Iran Saling Serang, Situs Radar hingga Pangkalan Militer Dibombardir
WASHINGTON - Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat setelah kedua negara saling melancarkan serangan dalam beberapa hari terakhir. Eskalasi terbaru ini terjadi di sekitar Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi dunia.
Militer AS mengonfirmasi telah menyerang sejumlah situs militer Iran pada akhir pekan lalu. Sebaliknya, Teheran mengklaim telah membalas dengan menargetkan pangkalan udara yang digunakan pasukan AS untuk melancarkan operasi di Iran selatan.
Komando Pusat AS (Centcom) menyatakan serangan tersebut merupakan "serangan membela diri" sebagai respons atas apa yang mereka sebut sebagai "tindakan agresif Iran", termasuk penembakan jatuh pesawat tanpa awak milik AS di perairan internasional.
Sementara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengatakan pihaknya telah menyerang pangkalan udara yang digunakan oleh militer AS dalam operasi terhadap Iran.
Di tengah meningkatnya ketegangan, Kuwait mengungkapkan sistem pertahanan udaranya telah menghadapi rudal dan drone "bermusuhan". Kementerian Luar Negeri Kuwait kemudian mengutuk apa yang disebut sebagai "serangan Iran yang keji dan berulang".
Presiden AS Donald Trump menanggapi situasi tersebut melalui unggahan di Truth Social pada Senin pagi (1/6/2026) melansir BBC. Ia meminta para pengkritiknya untuk tetap tenang.
"Semuanya akan berjalan baik pada akhirnya".
Trump juga menyatakan Iran "benar-benar ingin membuat kesepakatan, dan itu akan menjadi kesepakatan yang baik untuk AS".










