Apakah Melihat Blue Moon Malam Ini Bisa Berdampak pada Kesehatan? Ini Faktanya!

Apakah Melihat Blue Moon Malam Ini Bisa Berdampak pada Kesehatan? Ini Faktanya!

Gaya Hidup | inews | Minggu, 31 Mei 2026 - 11:55
share

JAKARTA, iNews.id – Fenomena langka Blue Moon yang akan menghiasi langit Indonesia pada malam ini, Minggu (31/5/2026), menjadi perbincangan hangat di media sosial. Selain karena kemunculannya yang relatif jarang, tidak sedikit orang yang bertanya-tanya apakah fenomena astronomi tersebut dapat memengaruhi kesehatan manusia?

Blue Moon merupakan istilah untuk bulan purnama kedua yang terjadi dalam satu bulan kalender. Pada Mei 2026, bulan purnama pertama terjadi pada 1 Mei, sedangkan purnama kedua muncul pada 31 Mei. Meski disebut "Blue Moon", fenomena ini tidak membuat Bulan berubah warna menjadi biru.

Lalu, apakah kemunculan Blue Moon membawa dampak bagi tubuh manusia?

Dampak Melihat Blue Moon

Berdasarkan berbagai penelitian ilmiah yang telah dilakukan selama beberapa dekade, para ahli belum menemukan bukti kuat bahwa bulan purnama, termasuk Blue Moon, dapat menyebabkan gangguan kesehatan secara langsung.

"Tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa Blue Moon dapat meningkatkan risiko penyakit tertentu, memicu tekanan darah tinggi, menyebabkan gangguan mental, atau membuat seseorang menjadi lebih agresif," ungkap laporan Sleep Foundation, dikutip Minggu (31/5/2026).

Kepercayaan bahwa bulan purnama dapat memengaruhi perilaku manusia sebenarnya telah berkembang sejak ratusan tahun lalu. Bahkan, istilah 'lunatic' dalam bahasa Inggris berasal dari kata Latin 'luna' yang berarti Bulan.

Namun hingga kini, penelitian modern belum berhasil membuktikan adanya hubungan langsung antara fase Bulan dan perubahan perilaku manusia secara signifikan.

Sejumlah kajian ilmiah yang meneliti angka kriminalitas, kasus kejiwaan, hingga kunjungan ke unit gawat darurat saat bulan purnama juga tidak menemukan pola yang konsisten.

Meski tidak berdampak langsung pada kesehatan, beberapa penelitian menunjukkan bahwa fase bulan purnama mungkin memiliki hubungan dengan kualitas tidur sebagian orang.

Salah satu studi yang dipublikasikan dalam jurnal Current Biology menemukan bahwa peserta penelitian cenderung membutuhkan waktu lebih lama untuk tertidur saat bulan purnama. Mereka juga tercatat tidur lebih singkat dan mengalami penurunan fase tidur nyenyak dibandingkan hari-hari biasa.

Penelitian lain yang dilakukan di Amerika dan Amerika Selatan menemukan pola serupa. Menjelang bulan purnama, sebagian responden diketahui tidur lebih larut dan memiliki durasi tidur yang sedikit lebih pendek.

Namun para ilmuwan menegaskan bahwa efek tersebut tergolong kecil dan tidak dialami oleh semua orang. Hingga saat ini, penyebab pastinya juga masih menjadi perdebatan di kalangan peneliti.

Mengapa Bulan Purnama Diduga Berpengaruh pada Tidur?

Salah satu teori yang berkembang menyebut manusia mungkin masih memiliki ritme biologis yang dipengaruhi siklus cahaya alami malam hari.

Pada masa sebelum adanya listrik, malam yang diterangi cahaya Bulan memungkinkan manusia beraktivitas lebih lama. Sebagian ilmuwan menduga mekanisme biologis tersebut masih tersisa hingga sekarang, meskipun masyarakat modern hidup di lingkungan yang dipenuhi cahaya buatan.

Meski demikian, teori tersebut belum sepenuhnya menjelaskan mengapa sebagian penelitian menemukan adanya pengaruh bulan purnama terhadap tidur, sementara penelitian lain tidak menemukan hubungan yang signifikan.

Terlepas dari itu semua, para ahli sepakat bahwa masyarakat tidak perlu khawatir menghadapi Blue Moon malam ini. Fenomena tersebut lebih merupakan peristiwa astronomi yang menarik untuk diamati dibandingkan ancaman bagi kesehatan.

Jika cuaca cerah, Blue Moon dapat disaksikan langsung dari seluruh wilayah Indonesia tanpa bantuan teleskop. Bahkan, malam ini Bulan juga akan tampak berdekatan dengan Antares, bintang merah terang yang dikenal sebagai "jantung" konstelasi Scorpius.

Dengan kata lain, jika Anda merasa lebih sulit tidur malam ini, penyebabnya belum tentu karena Blue Moon. Namun bila ingin menikmati fenomena langka yang hanya muncul sekitar dua hingga tiga tahun sekali, malam ini adalah waktu yang tepat untuk menengadah ke langit.

Topik Menarik