Khotbah Wukuf Arafah, Menhaj Jadikan Tri Sukses Haji Acuan Layani Jemaah
MAKKAH, iNews.id - Jemaah haji Indonesia larut dalam kekhusyukan saat menjalani puncak ibadah wukuf di Padang Arafah pada 9 Dzulhijjah 1447 Hijriah. Momentum sakral di tenda utama misi haji Indonesia ini diwarnai dengan penyampaian khotbah wukuf yang dibawakan oleh KH Acep Saefudin Chalim.
Di hadapan lautan tamu Allah, pemerintah secara resmi meresmikan peta jalan baru penyelenggaraan haji melalui gagasan Tri Sukses Haji. Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) Mochammad Irfan Yusuf atau Gus Irfan menegaskan pedoman itu menjadi instrumen utama pelayanan haji tahun ini.
"Tri sukses haji menjadi kompas kita dalam memberikan pelayanan. Kita ingin negara hadir memberikan kenyamanan, keamanan, dan keberkahan bagi seluruh jemaah," ujar Gus Irfan, Rabu (27/5/2026).
Kehadiran negara secara lebih fokus dan terarah ini diklaim menandai babak sejarah baru dalam manajemen penyelenggaraan ibadah haji. Pemerintah berkomitmen untuk terus mengawal proses ibadah agar jemaah merasa semakin dekat dengan pelindungan negara.
Pilar pertama dari gagasan strategis tersebut adalah jaminan sukses ritual bagi ratusan ribu jemaah Nusantara. Pemerintah memastikan setiap tahapan ibadah jemaah berjalan sah, tertib, dan dilaksanakan dengan tingkat kekhusyukan maksimal.
Pilar kedua menyoroti pentingnya sukses ekosistem ekonomi yang harus memberikan kemanfaatan timbal balik bagi negara. Hal ini mencakup dukungan terhadap pelaku usaha lokal hingga pengelolaan dana dam yang wajib disalurkan secara resmi dan transparan.
Sementara itu, pilar ketiga menargetkan kesuksesan peradaban yang menjadikan ibadah haji sebagai madrasah pembentukan karakter unggul. Jemaah diharapkan kembali ke Tanah Air menjadi pribadi yang lebih sabar, disiplin, dan santun untuk membawa kebaikan bagi bangsa.
"Ini menjadi arah gerakan dalam penyelenggaraan ibadah haji tahun ini," tandas Gus Irfan di hadapan para jemaah.
Untuk merealisasikan tiga pilar tersebut, Kemenhaj telah mengeksekusi sejumlah terobosan taktis yang sangat adaptif di lapangan. Skema pergerakan murur dan tanazul diterapkan secara ketat demi menjamin kenyamanan serta keselamatan mobilisasi massa.
Peningkatan standar kualitas konsumsi harian dan digitalisasi pengelolaan dam juga menjadi instrumen penting pelindungan jemaah. Seluruh inovasi operasional ini dibingkai dalam komitmen besar penyelenggaraan haji yang ramah lansia, disabilitas, dan risiko tinggi.
Di tengah paparan program strategis tersebut, Gus Irfan tidak lupa menitipkan pesan spiritual yang mendalam. Dia mengajak seluruh jemaah untuk memaksimalkan sisa waktu wukuf guna bermunajat demi meraih kemabruran.
Diketahui, pemerintah melayani 202.551 jemaah reguler yang terbagi dalam 527 kelompok terbang dan 16.596 jemaah khusus pada musim haji tahun ini. Seluruh jemaah berada di bawah pengawasan dan pendampingan penuh dari 2.098 personel petugas haji yang tersebar di titik-titik layanan.










