Profil Rifaldy Fajar, Peneliti Viral yang Dituduh Bikin Riset Palsu di Forum Ilmiah Dunia

Profil Rifaldy Fajar, Peneliti Viral yang Dituduh Bikin Riset Palsu di Forum Ilmiah Dunia

Terkini | inews | Rabu, 27 Mei 2026 - 18:24
share

JAKARTA, iNews.id - Nama Rifaldy Fajar tengah menjadi sorotan publik usai diduga terlibat dalam kasus pemalsuan riset ilmiah pada forum internasional bergengsi, International Symposium on Pneumococci and Pneumococcal Diseases (ISPPD) 2026 di Kopenhagen, Denmark.

Kasus ini ramai diperbincangkan di media sosial setelah muncul tudingan bahwa sejumlah peneliti asal Indonesia mempresentasikan penelitian yang diduga tidak valid hingga disebut dibuat menggunakan teknologi artificial intelligence (AI).

Dalam konferensi yang berlangsung pada 17–21 Mei 2026 tersebut, nama Rifaldy disebut bersama Prihantini dan Rini Winarti sebagai pihak yang diduga mempresentasikan riset bermasalah. Dugaan ini pertama kali ramai usai diungkap peneliti Ida Bagus Mandhara Brasika yang juga hadir dalam forum ilmiah tersebut.

Tak hanya soal dugaan data penelitian palsu, Rifaldy dan timnya juga dituding menggunakan identitas berbeda demi mengikuti konferensi internasional sekaligus memperoleh grant perjalanan.

Di tengah polemik yang berkembang, sosok Rifaldy Fajar langsung menarik perhatian publik. Banyak warganet penasaran dengan latar belakang akademik pria asal Bulukumba tersebut. Siapa sebenarnya Rifaldy Fajar? Simak beritanya sampai selesai.

Profil Rifaldy Fajar, Peneliti Viral yang Dituduh Bikin Riset Palsu

Rifaldy Fajar diketahui merupakan alumni Universitas Negeri Yogyakarta dari Program Studi Sarjana Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA). Ia mulai menempuh pendidikan di UNY sejak 1 September 2014 dan menyelesaikan studinya pada tahun akademik 2020/2021.

Selama menjadi mahasiswa, Rifaldy dikenal aktif dalam berbagai kegiatan akademik dan organisasi kampus. Ia disebut memiliki ketertarikan besar pada bidang matematika terapan, statistika, pemodelan sistem kompleks, hingga kecerdasan buatan atau AI.

Tak hanya aktif di perkuliahan, Rifaldy juga mengikuti berbagai kompetisi nasional dan internasional. Salah satu prestasi yang pernah diraihnya adalah juara pertama Kompetisi Pemikiran Kritis Mahasiswa (KPKM) DIKTI 2017.

Bersama timnya, Rifaldy memenangkan kompetisi tersebut lewat karya bertajuk “Game Kapas (Game Edukatif Scrabble Karakter Pancasila)” yang dirancang sebagai media pembelajaran nilai-nilai Pancasila bagi siswa sekolah dasar.

Selain itu, Rifaldy juga pernah menjadi delegasi Indonesia dalam ajang Nanyang Technological University Model United Nations 2016 di Singapura. Saat itu, ia mewakili El Salvador dalam forum Organization of American States (OAS).

Prestasi lainnya juga datang dari bidang inovasi teknologi. Bersama tim UKM Penelitian UNY, Rifaldy berhasil meraih medali emas pada International Youth Invention Contest 2015 di Seoul, Korea Selatan lewat inovasi pengawet alami kedelai berbahan ekstrak lidah buaya.

Dalam perjalanan akademiknya, Rifaldy disebut memiliki sejumlah publikasi ilmiah yang membahas epidemiologi, machine learning untuk diagnosis medis, hingga kesehatan digital.

Di luar dunia akademik, ia juga aktif dalam berbagai organisasi kampus seperti UKM Penelitian UNY, organisasi kajian ilmiah FMIPA, hingga Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa UNY di bidang pengembangan kreativitas mahasiswa.

Namun, di tengah reputasi akademiknya, nama Rifaldy kini terseret dalam polemik dugaan pelanggaran etik ilmiah internasional. Menanggapi isu yang berkembang, Rifaldy sempat menyampaikan klarifikasi melalui pernyataan yang beredar di media sosial. 

Klarifikasi Rifaldy Fajar Terseret Dugaan Riset Palsu 

Dia menegaskan bahwa tudingan terhadap dirinya dan tim tidak sepenuhnya benar. Dalam pernyataannya, Rifaldy mengaku menyayangkan karena pihaknya belum sempat memberikan penjelasan sebelum isu tersebut viral dan memicu serangan netizen.

Dia juga mengungkap bahwa akun media sosial rekannya, Prihantini, disebut diretas hingga tidak bisa digunakan lagi. Menurut Rifaldy, kondisi tersebut membuat timnya mengalami tekanan mental cukup berat.

“Kami mohon kepada semua pihak untuk dapat menyikapi persoalan ini dengan lebih bijak, tidak melakukan serangan personal, dan tidak menggiring kebencian yang dapat merugikan pihak lain secara mental maupun privasi,” tulis Rifaldy dalam klarifikasinya, dikutip Rabu (27/5/2026).

Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari penyelenggara ISPPD maupun otoritas terkait mengenai hasil investigasi dugaan pelanggaran etik ilmiah tersebut.

Topik Menarik