Viral Peneliti Indonesia Diduga Tipu Forum Ilmiah Dunia dengan Riset Palsu, Ini Modusnya!

Viral Peneliti Indonesia Diduga Tipu Forum Ilmiah Dunia dengan Riset Palsu, Ini Modusnya!

Terkini | inews | Rabu, 27 Mei 2026 - 12:42
share

JAKARTA, iNews.id - Dunia akademik internasional tengah dihebohkan dengan dugaan pemalsuan riset yang melibatkan sejumlah warga negara Indonesia (WNI) dalam konferensi International Symposium on Pneumococci and Pneumococcal Diseases (ISPPD) 2026 di Kopenhagen, Denmark, pada 17-21 Mei 2026.

Kasus ini viral di media sosial setelah salah satu peserta konferensi, Ida Bagus Mandhara Brasika, mengungkap temuannya melalui akun Threads @mandharabrasika pada Selasa (26/5/2026). Dalam unggahannya, dia menyebut terdapat dugaan pemalsuan identitas hingga fabrikasi penelitian yang dilakukan secara terorganisir di hadapan ribuan ilmuwan dunia.

"Beberapa orang Indonesia ketahuan melakukan pemalsuan terorganisir di depan ribuan ilmuwan dunia," tulis Mandhara dalam unggahannya, dikutip Rabu (27/5/2026).

Menurut keterangan yang beredar, para terduga diduga menggunakan modus berganti-ganti identitas saat melakukan presentasi ilmiah. Salah seorang peserta disebut tampil berkali-kali dalam sesi berbeda hanya dengan mengganti jilbab dan tanda pengenal nama atau name tag.

Modus tersebut memicu kecurigaan peserta lain karena orang yang sama diketahui menggunakan nama serta afiliasi institusi yang berbeda-beda dalam setiap sesi presentasi.

"Salah seorang pelaku melakukan pemalsuan identitas. Modusnya pelaku berganti-ganti nama saat berpresentasi, bermodal ganti jilbab dan nametag," lanjut unggahan tersebut.

Tak hanya soal identitas, materi penelitian yang dipresentasikan juga diduga palsu. Sejumlah data penelitian disebut merupakan hasil fabrikasi menggunakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

"Bukan hanya identitas, risetnya pun palsu! Dibuat dengan AI dan atau fabrikasi data. Risetnya dibuat terlihat sangat hebat. Padahal risetnya tidak pernah ada. Datanya palsu di-generate AI, gambar, dan tulisannya juga," tulis Mandhara.

Kecurigaan semakin menguat setelah peserta konferensi menelusuri detail penelitian yang dipresentasikan. Setidaknya tiga nama disebut menjadi pusat perhatian dalam dugaan kasus tersebut, yakni Prihantini atau Titin, Rifaldy Fajar, dan Rini Winarti.

Salah satu kejanggalan yang paling disorot adalah lokasi penelitian yang tercantum dalam manuskrip. Kelompok peneliti itu disebut mencantumkan lokasi riset di Peruvian Andes, Ethiopia, Guatemala, Lebanon, Yordania, Bangladesh, Sudan Selatan, Filipina, Kenya, Nepal, Malawi, hingga India Utara tanpa adanya kolaborator lokal maupun keterangan persetujuan etik penelitian.

Temuan tersebut kemudian memicu kekhawatiran di kalangan akademisi karena dinilai dapat merusak kredibilitas peneliti Indonesia di forum internasional.

"Dampaknya fatal. Bukan hanya ke pelaku, tapi semua peneliti dari Indonesia kena getahnya. Kredibilitas Indonesia dipertanyakan," tulis Mandhara.

Dalam unggahan yang sama, dia juga menduga motif utama para pelaku adalah untuk mendapatkan travel grant atau dana perjalanan ke luar negeri secara gratis melalui presentasi penelitian fiktif di forum ilmiah internasional.

"Saat ini, ilmuwan Indonesia di tingkat dunia sangat sedikit jumlahnya. Dengan kejadian ini, akan semakin sulit lagi," lanjutnya.

Kasus ini semakin ramai diperbincangkan setelah muncul dugaan pencantuman nama anggota keluarga dalam manuskrip penelitian. Nama Elfiany Syafruddin dan Sahnaz disebut dicantumkan sebagai co-peneliti meski diduga bukan bagian dari institusi yang tercantum dalam afiliasi penelitian tersebut.

Hingga kini belum ada keterangan resmi dari penyelenggara konferensi maupun otoritas terkait mengenai dugaan pelanggaran etik ilmiah tersebut. Pemerintah Denmark dan Kedutaan Besar Denmark untuk Indonesia juga belum memberikan pernyataan resmi.

Klarifikasi Salah Seorang Peneliti yang Namanya Dicatut

Di tengah ramainya sorotan publik, salah satu pihak yang disebut dalam kasus ini, Rifaldy Fajar, akhirnya buka suara. Dalam pernyataan tertulis, Rifaldy mengatakan pihaknya masih menyiapkan klarifikasi secara bertahap.

"Kami akan klarifikasi satu per satu. Tapi mohon tunggu dulu karena kami perlu menyusun runtutannya. Informasi yang saat ini ramai beredar di media sosial menurut kami tidak sepenuhnya sesuai fakta," ujar Rifaldy.

Dia juga menyoroti derasnya arus komentar netizen yang dinilai mulai tidak bijak dalam menyikapi persoalan tersebut. Namun hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan rinci terkait bantahan atas berbagai bukti yang beredar di media sosial.

Sementara itu, salah satu rekan terduga berinisial P dilaporkan mengalami peretasan akun media sosial pada Selasa (26/5/2026) dan hingga kini belum dapat diakses.

Kasus ini kini menjadi perhatian luas di kalangan akademisi karena dugaan pelanggaran yang terjadi dinilai bukan sekadar plagiarisme biasa, melainkan mengarah pada scientific misconduct atau kecurangan ilmiah serius, mulai dari fabrikasi data, pemalsuan identitas, hingga dugaan penyalahgunaan forum ilmiah internasional untuk memperoleh pendanaan perjalanan.

Topik Menarik