Klarifikasi Rifaldy Fajar, Peneliti Indonesia yang Dituduh Tipu Forum Ilmiah Dunia Lewat Riset Palsu
JAKARTA, iNews.id - Nama Rifaldy Fajar menjadi sorotan publik usai dirinya disebut dalam dugaan kasus pemalsuan riset dan identitas dalam konferensi International Symposium on Pneumococci and Pneumococcal Diseases (ISPPD) 2026 di Kopenhagen, Denmark.
Kasus tersebut viral di media sosial setelah muncul tudingan adanya sejumlah warga negara Indonesia (WNI) yang diduga mempresentasikan penelitian palsu di forum ilmiah internasional dengan menggunakan identitas berbeda hingga data penelitian yang disebut hasil fabrikasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Di tengah ramainya perbincangan publik, beredar pernyataan klarifikasi yang diklaim berasal dari Rifaldy Fajar. Dalam pernyataannya, Rifaldy menyebut tudingan yang diarahkan kepada dirinya dan tim tidak sepenuhnya benar.
Dia juga menyayangkan belum adanya upaya klarifikasi langsung sebelum isu tersebut menyebar luas ke publik. Lantas, seperti apa klarifikasinya? Simak beritanya sampai selesai.
Klarifikasi Rifaldy Fajar, Peneliti Indonesia Diduga Tipu Forum Ilmiah Dunia dengan Riset Palsu
"Assalamualaikum teman-teman semua, saya Rifaldy, yang mewakili teman-teman tim yang saat ini sedang berkaitan dengan informasi yang tengah viral," tulis pernyataan tersebut, dikutip Rabu (27/5/2026).
Rifaldy mengaku awalnya berniat memberikan penjelasan setelah muncul rangkaian unggahan dari akun yang pertama kali membahas dugaan kasus tersebut. Namun menurutnya, situasi terlanjur memburuk sebelum pihaknya sempat memberikan klarifikasi.
Dia juga menyoroti derasnya reaksi netizen yang dinilai sudah melewati batas dan berdampak pada kondisi mental timnya.
"Sebelum kami sempat memberikan penjelasan, kembali muncul tindakan lanjutan yang justru semakin memperburuk keadaan dan sangat memengaruhi mental kami. Situasi ini juga sudah membawa arus netizen yang menurut saya tidak lagi bijak dalam menyikapi permasalahan," tulis Rifaldy.
Dalam klarifikasi tersebut, Rifaldy juga mengungkap bahwa akun media sosial milik rekannya, Prihantini, disebut telah diretas oleh pihak yang diduga netizen. Akibatnya, akun tersebut kini tidak lagi dapat digunakan.
"Bahkan, semua akun-akun media sosial milik teman kami, Prihantini, sampai diretas oleh netizen sehingga saat ini sudah tidak dapat digunakan sama sekali," ujarnya.
Dia mengaku khawatir akun tersebut nantinya disalahgunakan oleh pihak tertentu. Kondisi tersebut disebut membuat timnya mengalami tekanan mental yang cukup berat.
"Kami juga tidak mengetahui apabila nantinya akun tersebut disalahgunakan oleh pihak tertentu. Kondisi ini tentu membuat kami sangat terpukul dan tertekan secara mental," sambungnya.
Rifaldy juga menyayangkan karena menurutnya belum ada upaya tabayyun atau klarifikasi langsung kepada pihaknya sebelum informasi tersebut viral di media sosial.
Di akhir pernyataannya, Rifaldy meminta publik untuk menyikapi persoalan tersebut dengan lebih bijak dan tidak melakukan serangan personal.
"Kami mohon kepada semua pihak untuk dapat menyikapi persoalan ini dengan lebih bijak, tidak melakukan serangan personal, dan tidak menggiring kebencian yang dapat merugikan pihak lain secara mental maupun privasi," tutup pernyataan tersebut.
Sebelumnya, dunia akademik internasional dihebohkan dengan dugaan pemalsuan penelitian dalam konferensi ISPPD 2026 di Denmark. Sejumlah peserta asal Indonesia dituding melakukan presentasi menggunakan identitas berbeda serta mempresentasikan riset yang diduga palsu dan dibuat menggunakan AI.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari penyelenggara konferensi maupun otoritas terkait mengenai hasil investigasi dugaan pelanggaran etik ilmiah tersebut.










