IHSG Anjlok usai BUMN Ekspor SDA Dibentuk, Menkeu Purbaya Bongkar Penyebabnya

IHSG Anjlok usai BUMN Ekspor SDA Dibentuk, Menkeu Purbaya Bongkar Penyebabnya

Terkini | inews | Jum'at, 22 Mei 2026 - 10:38
share

JAKARTA, iNews.id - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) setelah pembentukan badan usaha milik negara (BUMN) khusus ekspor dipicu kepanikan investor yang belum memahami arah kebijakan pemerintah. Meski begitu, dia optimistis kebijakan tersebut justru akan mendongkrak valuasi emiten di pasar saham dalam jangka panjang.

Tekanan terhadap IHSG mulai terlihat sehari setelah rencana pembentukan badan ekspor diumumkan pemerintah. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (20/5/2026), IHSG dibuka di level 6.352,20 sebelum akhirnya ditutup melemah 0,82 persen ke posisi 6.318,5.

Pelemahan kembali berlanjut pada perdagangan Kamis (21/5/2026) setelah pemerintah resmi mengumumkan pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI), perusahaan baru di bawah Danantara Indonesia yang akan mengelola ekspor sumber daya alam (SDA).

Menurut Purbaya, reaksi pasar yang cenderung negatif merupakan respons wajar akibat ketidakpastian terhadap kebijakan baru pemerintah. Investor disebut memilih melepas saham terlebih dahulu sebelum memahami dampak jangka panjang kebijakan tersebut.

“Mungkin mereka belum tahu dampak sebenarnya seperti apa. Kalau ada ketidakpastian biasanya takut, jual dulu. Tapi nanti kalau sudah mengerti dampaknya, harga saham bisa naik lagi,” kata Purbaya di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Kamis (21/5/2026).

Purbaya menjelaskan, pembentukan PT DSI bertujuan menekan praktik under-invoicing dalam kegiatan ekspor, yakni pelaporan nilai barang lebih rendah dari harga transaksi sebenarnya.

Dia menilai selama ini sebagian keuntungan ekspor justru mengalir ke perusahaan-perusahaan di luar negeri yang dimiliki pihak tertentu. Dengan sistem baru melalui PT DSI, seluruh transaksi ekspor diharapkan tercatat langsung dalam laporan penjualan perusahaan di dalam negeri.

“Yang sebelumnya keuntungan dimainkan lewat perusahaan luar negeri, sekarang harusnya bisa langsung tercermin dalam penjualan perusahaan yang sebenarnya,” ujarnya.

Menurut Purbaya, mekanisme tersebut berpotensi meningkatkan keuntungan perusahaan terbuka yang tercatat di bursa. Bahkan, dia meyakini valuasi emiten akan naik signifikan setelah pasar memahami manfaat kebijakan itu.

“Perusahaan listed di bursa harusnya bisa mendapat keuntungan lebih besar. Pada akhirnya valuasi perusahaan juga akan meningkat secara signifikan,” tuturnya.

Topik Menarik