Israel Diserang Hantavirus, Kasus Positif Terkonfirmasi!
TEL AVIV, iNews.id - Israel melaporkan kasus pertama Hantavirus yang terdiagnosis di negara tersebut. Pasien diduga terpapar virus langka saat melakukan perjalanan ke kawasan Eropa Timur beberapa bulan lalu.
Media lokal Maariv pada Kamis (7/5/2026) melaporkan, pasien mulai mencari pertolongan medis setelah mengalami sejumlah gejala yang berkaitan dengan infeksi Hantavirus. Namun, identitas pasien, lokasi tempat tinggal, hingga rumah sakit tempat diagnosis dilakukan masih belum dipublikasikan.
Untuk memastikan infeksi, pasien terlebih dahulu menjalani tes antibodi setelah gejala muncul. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya paparan terhadap hantavirus.
Tim medis kemudian melanjutkan dengan tes PCR (polymerase chain reaction) guna mendeteksi materi genetik virus, yang akhirnya mengonfirmasi infeksi tersebut.
Meski dinyatakan positif, kondisi pasien dilaporkan stabil. Pasien tidak memerlukan perawatan intensif maupun isolasi ketat, namun tetap berada dalam pengawasan medis. Kasus ini juga telah dilaporkan kepada Kementerian Kesehatan Israel.
Meski terbilang jarang di Israel, ini bukan pertama kalinya warga Israel terinfeksi Hantavirus. Sekitar satu dekade lalu, beberapa warga Israel juga diduga tertular virus tersebut saat bepergian ke Amerika Selatan.
Namun, kasus terbaru ini berbeda dengan wabah Hantavirus yang tengah menjadi perhatian dunia di kapal pesiar MV Hondius. Pasien di Israel diketahui terinfeksi strain Eropa, bukan strain Andes yang lebih berbahaya dan saat ini merebak di kapal tersebut.
Strain Andes diketahui berasal dari Amerika Selatan, khususnya Argentina dan Chile, dan menjadi satu-satunya jenis Hantavirus yang memiliki dokumentasi penularan antarmanusia melalui kontak dekat dalam waktu lama. Sementara sebagian besar strain Hantavirus lain umumnya menular dari hewan pengerat ke manusia.
Wabah di kapal MV Hondius menewaskan tiga penumpang, yakni pasangan asal Belanda dan seorang warga Jerman. Total delapan kasus terkonfirmasi maupun suspek dilaporkan terkait pelayaran tersebut, termasuk seorang warga Swiss yang kini dirawat di Zurich.
Kapal yang membawa sekitar 147 penumpang dan awak dari 23 negara itu berangkat dari Ushuaia, Argentina selatan, pada 1 April. Perjalanan melintasi Antartika hingga sejumlah pulau terpencil di Atlantik Selatan sebelum akhirnya berlabuh di lepas pantai Praia, Tanjung Verde.
Penumpang sempat dilarang turun setelah muncul beberapa kasus gangguan pernapasan berat di atas kapal. Tiga pasien kemudian dievakuasi, dua di antaranya dalam kondisi serius.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan risiko penularan kepada masyarakat umum masih rendah dan belum ada bukti bahwa virus tersebut menyebar melalui kontak sehari-hari biasa. Sementara itu, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) juga terus memantau warga negaranya yang berada di kapal tersebut sebagai bagian dari pelacakan kontak.










