Gunakan AI Secara Instan, Pakar Peringatkan Siswa Akan Malas Berpikir

Gunakan AI Secara Instan, Pakar Peringatkan Siswa Akan Malas Berpikir

Teknologi | inews | Sabtu, 2 Mei 2026 - 19:33
share

JAKARTA, iNews.id – Penggunaan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) di dunia pendidikan mulai menuai perhatian serius. Konten kreator AI sekaligus Founder Rumus Muda, Muhammad Reza Erfit, mengingatkan adanya potensi penurunan aktivitas otak siswa jika teknologi tersebut digunakan secara tidak tepat.

Dia mengungkapkan, hanya sebagian kecil neuron di otak yang aktif ketika siswa mengandalkan AI untuk mendapatkan jawaban instan. Kondisi ini dinilai berbahaya jika terus dibiarkan tanpa pengawasan dalam proses pembelajaran di sekolah.

Pernyataan itu disampaikan Reza usai diskusi “Peta Pendidikan Indonesia; Sudah Sampai Di mana Pendidikan Indonesia” di Jakarta, Sabtu (2/5/2026).

Dia menegaskan, penggunaan AI tidak sepenuhnya berdampak negatif. Aktivitas otak justru akan meningkat jika siswa tetap mengedepankan proses berpikir kritis sebelum memanfaatkan AI sebagai alat bantu.

“Based on research ketika kita menggunakan AI, neuron-neuron di otak kita itu yang aktif cuma sedikit dibandingkan dengan kita yang mau mikir sendiri dulu baru nanti dikolaborasiin dengan AI itu neuron itu bakal tetap aktif,” katanya.

Menurut Reza, pemerintah saat ini juga mulai mengurangi praktik penggunaan AI yang hanya berorientasi pada pencarian jawaban instan. Langkah tersebut bertujuan agar siswa tidak kehilangan kemampuan berpikir mandiri.

Dia menekankan pentingnya membangun fondasi logika dan computational thinking sejak dini, bahkan sejak tingkat sekolah dasar. Kemampuan tersebut menjadi kunci utama sebelum siswa mempelajari teknologi AI maupun coding.

“Logic dari siswa itu yang diajarkan, computational thinking di mana kita bisa untuk mengambil keputusan ketika ada masalah. Jadi logic-logic yang seperti itu yang harus dibangun dari SD terlebih dahulu. Which itu adalah computational thinking,” ujarnya.

Lebih lanjut, dia menjelaskan pembelajaran coding dan AI membutuhkan dasar berpikir kritis yang kuat. Tanpa fondasi tersebut, siswa berisiko hanya menjadi pengguna pasif yang bergantung pada teknologi.

“Baru nanti kita masuk ke coding-nya. Baru kita masuk ke arti software. Jadi fundamentalnya itu dibangun,” katanya, menjelaskan.

Dia juga menyoroti pentingnya kemampuan merumuskan pertanyaan yang tepat saat menggunakan AI. Menurutnya, keterampilan ini menjadi faktor penentu agar siswa tidak salah kaprah dalam memanfaatkan teknologi.

“Karena itu skill yang menurut saya perlu ditekankan ke teman-teman karena membangun pertanyaan itu kan juga butuh knowledge ya dibandingkan dengan cuma mencari jawaban kita bisa tanya ke AI semua gitu dan critical thinking itu menurut saya dibangun,” ujarnya.

Atas kondisi tersebut, kewaspadaan terhadap penggunaan AI di dunia pendidikan dinilai semakin penting. Tanpa penguatan logika dan pola pikir kritis, pemanfaatan teknologi justru berpotensi melemahkan kemampuan dasar siswa dalam memahami materi pembelajaran.

Topik Menarik