AS Siapkan Serangan Besar ke Iran, Blokade Selat Hormuz Picu Krisis Global

AS Siapkan Serangan Besar ke Iran, Blokade Selat Hormuz Picu Krisis Global

Terkini | inews | Selasa, 14 April 2026 - 17:23
share

WASHINGTON D.C, iNews.id – Amerika Serikat (AS) bersiap menyerang Iran dengan target lebih luas usai gagalnya perundingan damai dan memanasnya situasi di Timur Tengah.

Presiden Donald Trump menegaskan langkah militer tetap berjalan sambil membuka jalur diplomasi. Dia juga membagikan video pesawat pengebom Amerika Serikat yang mendarat di kawasan Timur Tengah.

Peningkatan tensi terjadi setelah negosiasi lanjutan antara Amerika Serikat dan Iran di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan. Sejak saat itu, pergerakan militer AS di kawasan terus meningkat.

Data pelacakan penerbangan menunjukkan sejumlah jet tempur dan pesawat serang telah tiba di Timur Tengah. Sekitar 2.000 personel dari Divisi Lintas Udara ke-82 Angkatan Darat AS juga disiapkan untuk dikerahkan.

Selain itu, ribuan pelaut dan marinir bergerak menuju wilayah tersebut guna memperkuat kesiapan militer. Trump bahkan telah memerintahkan seluruh kekuatan darat, laut, dan udara untuk bersiaga tanpa batas waktu.

“Iran tidak akan memiliki senjata nuklir. Kami telah menyepakati banyak hal, tetapi mereka tidak menyetujui itu. Jika mereka tidak setuju, tidak akan ada kesepakatan,” ujar Trump.


Blokade Selat Hormuz dan Dampak Global

Sebagai langkah lanjutan, AS resmi memblokade Selat Hormuz mulai Senin(13/4/2026) waktu setempat. Kebijakan ini menargetkan kapal dari semua negara yang masuk atau keluar dari wilayah Iran.

Trump juga menginstruksikan Angkatan Laut AS untuk mencegat kapal yang membayar biaya lintas ke Iran. Dia menyebut biaya tersebut sebagai tol ilegal.

“Iran tidak akan bisa menjual minyak. Banyak kapal menuju negara kami untuk mengambil minyak, lalu membawanya keluar. Mereka tidak akan melewati Selat Hormuz,” ujarnya.

Sebelumnya, Iran dilaporkan mengenakan biaya hingga 2 juta dolar AS kepada kapal tanker yang melintasi selat tersebut. Pembayaran disebut dilakukan dalam mata uang yuan.

Langkah blokade langsung berdampak pada pasar global. Harga minyak dunia melonjak hingga menyentuh 104 dolar AS per barel. Kenaikan ini memicu kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global.


Ketegangan Meluas ke Sekutu

Situasi semakin kompleks setelah sejumlah negara sekutu tidak sejalan dengan kebijakan AS. Inggris menyatakan tidak akan ikut dalam blokade Selat Hormuz.

Pemerintah Inggris juga mendorong upaya diplomasi dengan melibatkan lebih banyak pihak untuk meredakan konflik. Mereka menilai eskalasi militer berisiko memperburuk kondisi kawasan.

Selain Inggris, hubungan AS dengan Kanada juga memanas. Kanada mengancam akan mengurangi kontribusi ekonominya sebagai respons atas kebijakan Washington.

Ketegangan yang terus meningkat membuat kawasan Timur Tengah berada dalam kondisi rawan. Konflik yang belum mereda berpotensi membawa dampak luas bagi stabilitas global.

Topik Menarik