Harga Kedelai Naik Imbas Perang AS, Perajin Tempe di Jember Kelimpungan
JEMBER, iNews.id - Melambungnya harga kedelai impor imbas perang Amerika Serikat dan Iran, mulai memukul perajin tempe rumahan di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Kenaikan biaya bahan baku yang signifikan memaksa para perajin melakukan efisiensi ketat, mulai dari memangkas kapasitas produksi hingga mengurangi jumlah pekerja demi menjaga keberlangsungan usaha.
Kondisi sulit ini salah satunya dirasakan oleh Maryono, pemilik rumah produksi tempe di Jalan Imam Bonjol, Kelurahan Tegal Besar, Kecamatan Kaliwates, Jember. Usaha yang telah ia rintis selama lebih dari 20 tahun kini harus beroperasi di bawah tekanan beban produksi yang berat.
Kenaikan harga kedelai impor dari kisaran Rp8.000 menjadi Rp10.000 per kilogram memaksa Maryono menurunkan kapasitas produksinya secara drastis.
"Dulu produksi bisa mencapai 1,8 kuintal per hari, tapi sekarang hanya sanggup 1 kuintal saja per hari," ujar Maryono di lokasi produksinya, Rabu (1/4/2026).
Penurunan kapasitas produksi hingga hampir 50 persen ini menjadi langkah pahit yang harus diambil agar usaha tetap berjalan. Tak hanya memangkas jumlah bahan baku, Maryono juga terpaksa mengurangi jumlah tenaga kerja karena pendapatan yang kian menipis.
Meski biaya operasional melonjak, para perajin di kawasan Tegal Besar memilih untuk tidak menaikkan harga jual ke konsumen. Harga tempe tetap dipatok sebesar Rp5.000 per biji.
Sebagai gantinya, perajin melakukan penyesuaian pada takaran atau ukuran tempe agar tetap mendapatkan margin keuntungan meski tipis.
Langkah ini diambil karena kekhawatiran para perajin akan kehilangan pelanggan jika harga jual di pasar dinaikkan secara langsung.










