Neraca Dagang RI Surplus 70 Bulan Beruntun, Tembus 2,23 Miliar Dolar AS di Februari 2026

Neraca Dagang RI Surplus 70 Bulan Beruntun, Tembus 2,23 Miliar Dolar AS di Februari 2026

Ekonomi | inews | Rabu, 1 April 2026 - 12:10
share

JAKARTA, iNews.id - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan surplus neraca perdagangan secara kumulatif periode Januari hingga Februari 2026 mencapai 2,23 miliar dolar AS. Surplus ini pun memecahkan rekor 70 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

Menurut Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, surplus tersebut ditopang oleh kinerja positif perdagangan komoditas nonmigas, sementara perdagangan migas masih mengalami defisit.

“Hingga bulan Februari 2026, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus sebesar 2,23 miliar dolar AS. Surplus sepanjang periode Januari-Februari 2026 ditopang oleh surplus komoditas nonmigas 5,42 miliar dolar AS, sementara komoditas migas masih mengalami defisit 3,19 miliar dolar AS,” ungkap Ateng pada konferensi pers rilis BPS, Rabu (1/4/2026).

Menurutnya, nilai ekspor kumulatif periode Januari-Februari 2026 naik 2,19 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan ini terutama didorong oleh sektor industri pengolahan yang mencatat nilai ekspor sebesar 37,06 miliar dolar AS atau naik 6,69 persen.

Tiga besar negara tujuan ekspor Indonesia adalah China, Amerika Serikat, dan India. Kontribusi ketiga negara ini sekitar 43,85 persen dari total ekspor nonmigas Indonesia pada Januari-Februari 2026.

China masih menjadi pasar ekspor utama komoditas nonmigas Indonesia dengan nilai mencapai 10,46 miliar dolar AS (24,69 persen), disusul Amerika Serikat sebesar 5,00 miliar dolar AS (11,81 persen), dan India sebesar 3,11 miliar dolar AS (7,35 persen).

Ekspor nonmigas ke China pada periode Januari-Februari 2026 didominasi oleh komoditas besi dan baja, nikel dan barang daripadanya, serta bahan bakar mineral.

Sementara ekspor ke Amerika Serikat didominasi oleh mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya, alas kaki, pakaian dan aksesorisnya(rajutan).

Sementara itu, nilai impor Indonesia secara kumulatif hingga Februari 2026 mencapai 42,09 miliar dolar AS, atau naik 14,44 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya. Penyumbang utama masih berasal dari sektor nonmigas, dengan nilai impor 36,93 miliar dolar AS, naik 17,49 persen.

Sedangkan impor migas mengalami penurunan 3,50 persen menjadi 5,16 miliar dolar AS.

Dari sisi penggunaan, peningkatan impor periode Januari-Februari 2026 secara kumulatif terjadi baik pada barang modal, bahan baku/penolong, maupun barang konsumsi. Nilai impor barang modal mencapai 9,10 miliar dolar AS atau naik 34,44 persen.

Sedangkan nilai impor bahan baku/penolong mencapai 29,40 miliar dolar AS atau naik 9,27 persen.

Sepanjang periode Januari-Februari 2026, China menjadi negara utama asal impor nonmigas Indonesia dengan nilai 15,68 miliar dolar AS (42,46 persen), diikuti Australia dengan nilai 2,07 miliar dolar AS (5,60 persen), dan Singapura sebesar 2,00 miliar dolar AS (5,41 persen).

Selanjutnya, surplus perdagangan nonmigas hingga Februari 2026 sebagian besar ditopang oleh lima komoditas utama, yaitu lemak dan minyak hewan/nabati (6,49 miliar dolar AS), bahan bakar mineral (4,01 miliar dolar AS), besi dan baja (2,70 miliar dolar AS), nikel dan barang daripadanya (1,97 miliar dolar AS), serta alas kaki (0,99 miliar dolar AS).

Topik Menarik