Jeritan Hati Nikita Mirzani dari Balik Jeruji Ditulis dalam Secarik Surat, Ini Isinya
JAKARTA, iNews.id — Dari balik dinginnya jeruji Rumah Tahanan Pondok Bambu, artis Nikita Mirzani menuliskan sepucuk surat penuh emosi. Apa isi surat tersebut?
Surat yang diterima iNews melalui kuasa hukum Nikita Mirzani, Usman Asgar, menjadi luapan hati seorang ibu yang merasa terjebak dalam ketidakadilan hukum. Tak hanya itu, dia pun mengaku sangat rindu dengan anak-anaknya di rumah.
Dalam surat bertajuk 'Ratapan Keadilan di Balik Jeruji', Nikita menggambarkan kondisinya dengan kalimat yang mengguncang. Dia mengaku menulis dengan tangan gemetar, bukan karena takut, melainkan karena lelah menghadapi proses hukum yang menurutnya tidak berpihak.
"Hari ini, pena saya gemetar bukan karena takut, melainkan karena lelah menanggung beban ketidakadilan yang kian menyesakkan dada," tulisnya pada 18 Maret 2026.
Dia menyoroti proses hukum yang dijalani sejak di kepolisian hingga persidangan. Dalam pandangannya, hukum tidak lagi menjadi pelindung, melainkan alat yang bisa dimainkan.
"Di negeri ini, yang katanya menjunjung tinggi hukum, saya justru merasa seperti buruan yang dipaksa menjadi penjahat dalam sebuah skenario yang terus berubah-ubah," tulis Nikita.
Lebih jauh, dia menyinggung perubahan pasal yang dinilainya terjadi selama proses hukum berjalan.
"Pasal-pasal diganti sesuka hati, seolah-olah kebenaran bisa dicocok-cocokkan demi sebuah hukuman yang dipaksakan. Di mana nurani itu disimpan ketika hukum tak lagi menjadi pelindung?" lanjutnya.
Nikita Mirzani Mengaku Sangat Rindu Anak-Anak di Rumah
Bagian paling menyayat dari surat tersebut adalah saat Nikita berbicara tentang anak-anaknya. Dia mengaku telah menjalani kehidupan selama satu tahun di balik jeruji untuk kesalahan yang menurutnya tidak pernah dilakukan.
Rasa sakit itu, kata dia, bukan semata karena penjara, melainkan karena harus terpisah dari buah hatinya.
"Satu tahun sudah saya terkunci di sini. Tiga ratus enam puluh lima hari saya jalani untuk kesalahan yang tidak pernah saya lakukan," tulisnya.
"Yang menghancurkan jiwa saya adalah bayangan tiga wajah mungil di rumah—anak-anak saya," tambah Nikita.
Nikita menggambarkan bagaimana setiap malam di dalam sel terasa dihantui oleh bayangan tangis anak-anaknya. Dia menilai anak-anaknya tidak seharusnya ikut menanggung dampak dari proses hukum yang dialami.
"Mereka tidak butuh pasal-pasal hukum; mereka butuh pelukan ibunya. Mereka tidak butuh debat hukum di pengadilan; mereka butuh kehadiran saya untuk sekadar membelai rambut mereka sebelum tidur," tulisnya lagi.
Dalam surat itu, Nikita juga mempertanyakan makna keadilan yang menurutnya telah merenggut hak seorang ibu untuk bersama anak-anaknya.
"Apakah keadilan memang sesempit ini? Hingga tega memisahkan seorang ibu dari anak-anaknya demi sebuah ego kekuasaan?" ujarnya.
Meski berada dalam situasi sulit, dia menegaskan tidak akan menyerah. Dia memohon agar pihak-pihak terkait melihat dampak dari kasus ini terhadap anak-anaknya yang disebut tidak berdosa.
"Saya mungkin bisa dipenjara, tapi saya tidak akan pernah menyerah pada ketidakadilan ini. Saya hanya memohon, lihatlah anak-anak saya," tulisnya.
Sebagai penutup, Nikita mempertanyakan sampai kapan proses hukum yang dia sebut sebagai 'sandiwara' itu akan berakhir.
"Satu tahun adalah waktu yang terlalu lama untuk sebuah ketidakbenaran. Sampai kapan sandiwara hukum ini akan berakhir?" katanya.
Seperti diketahui, Nikita Mirzani telah dihukum 6 tahun penjara dalam kasus dugaan pemerasan dan tindak pidana pencucian uang (TPPU). Saat ini dia menjalani masa hukuman di Rutan Pondok Bambu.










