Tak Hanya Perempuan, Tenyata Ada Pil KB untuk Laki-Laki
JAKARTA, iNews.id - Ketika mendengar pil KB, sebagian besar masyarakat masih mengaitkannya dengan perempuan. Stigma tersebut sudah lama melekat, terlebih sosialisasi kontrasepsi untuk laki-laki masih terbilang minim.
Padahal, pilihan kontrasepsi tidak hanya diperuntukkan bagi perempuan. Konten kreator dan influencer kesehatan, Farhan Zubedi, menyoroti bahwa selama ini perempuan kerap menanggung efek samping penggunaan kontrasepsi hormonal.
“Pil KB perempuan, suntik hormon perempuan, efek sampingnya seperti mual, mood swing, berat badan naik, perempuan juga yang nanggung,” kata Farhan dalam unggahan video di akun Instagramnya dikutip Kamis (5/3/2026).
Dia menjelaskan, opsi kontrasepsi untuk laki-laki saat ini masih sangat terbatas. Secara umum, hanya ada dua metode yang dikenal luas, yakni penggunaan pengaman dan vasektomi.
“Sementara untuk laki-laki cuma dua pengaman dan vasektomi. Pengaman masih memiliki tingkat kegagalan 13 persen dan vasektomi cenderung dianggap permanen,” ucap dia.
Menurut Farhan, kondisi tersebut menimbulkan dilema tersendiri. Sebagian laki-laki enggan menggunakan pengaman karena masih ada risiko kegagalan, sementara vasektomi sering dihindari karena dianggap sebagai tindakan permanen.
Namun, kini muncul inovasi baru berupa pil kontrasepsi khusus laki-laki bernama YCT 529. Pil ini diklaim bersifat non-hormonal dan tidak mengganggu hormon testosteron seperti kontrasepsi hormonal pada perempuan.
“YCT 529, pil kontrasepsi untuk laki-laki. Cara kerjanya beda dari pil KB perempuan. Kalau pil KB perempuan itu hormonal mempengaruhi estrogen dan progesteron supaya tidak terjadi ovulasi. YCT 529 ini non-hormonal yang berarti enggak ganggu hormon kayak hormon testosteron,” jelas Farhan.
Dia menerangkan, YCT 529 bekerja dengan menahan reseptor vitamin A di testis yang dikenal sebagai retinoic acid atau reseptor alfa. Reseptor tersebut memiliki peran penting dalam proses produksi sperma.
“Karena vitamin A itu esensial atau penting untuk proses produksi sperma. Sehingga kalau di blok reseptornya, vitamin A enggak bisa nempel dan tidak bisa melakukan proses spermatogenesis. Alias produksi spermanya terhenti sementara,” tambah dia.
Farhan menekankan, efek kontrasepsi dari pil ini bersifat sementara. Jika konsumsi dihentikan, produksi sperma disebut dapat kembali normal seperti semula.
“Kata kuncinya, sementara. Begitu stop minum pilnya, kesuburannya balik lagi. Pil ini sudah diuji coba ke manusia dan sudah lolos fase satu. Sejauh ini aman dan ditoleransi dengan baik,” tutur dia.
Saat ini, pengembangan YCT 529 telah memasuki uji klinis fase dua dan ditargetkan rampung pada Juli 2026. Farhan berharap kehadiran pil ini dapat mendorong tanggung jawab kontrasepsi menjadi peran bersama.
“Sekarang lagi jalan fase 2 dan diperkirakan selesai di bulan Juli 2026. Selama ini perempuan yang selalu nanggung lebih banyak, sekarang laki-laki juga bisa bantu sehingga kontrasepsi bukan hanya tanggungan satu pihak tapi juga jadi tanggungan berdua,” kata dia.










