Kisah Ibu asal Bogor Bersyukur Anaknya Bisa Cuci Darah, Layanan BPJS PBI Tetap Aktif
JAKARTA, iNews.id - Di balik ruang hemodialisis Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta, tersimpan kisah keteguhan seorang ibu bernama Siti Hariati (36), warga Bogor, Jawa Barat, yang setia mendampingi putranya menjalani cuci darah dua kali sepekan.
Anak semata wayangnya yang kini berusia 15 tahun itu telah berjuang melawan penyakit ginjal sejak duduk di bangku kelas 6 SD, tepatnya di usia 11 tahun. Awalnya, kondisi sang anak kerap dianggap biasa karena sejak kecil memang sering mengalami batuk, pilek, dan demam.
“Dari umur 11 tahun, cuman emang dari kecil dia udah sakit-sakitan terus. Kayak batuk, pilek, sama demam. Cuma nggak deteksi dari kecil mungkin ya, cuman berobat-berobat gitu aja,” ucap Siti.
Titik balik terjadi saat anaknya berusia 11 tahun. Wajah dan matanya tampak membengkak, disertai kondisi tubuh yang pucat. Gejala itu menjadi awal terungkapnya penyakit ginjal yang diderita.
“Nah, ketahuannya pas udah 11 tahun itu bengkak-bengkak. Matanya bengkak sama mukanya kayak beda gitu, kayak pucet gitu ya,” katanya.
Kecewanya Pelatih Sassuolo Usai Jay Idzes Cs Gagal Kalahkan AS Roma di Liga Italia 2025-2026
Siti pun segera membawa putranya ke rumah sakit. Berbagai pemeriksaan dilakukan, mulai dari tes urine hingga tes darah. Hasilnya menunjukkan kadar albumin kerap turun sehingga harus dilakukan transfusi.
“Diambil pipis pertama gitu ya. Terus diambil darahnya. Terus albuminnya sering turun. Jadi ditransfusi albumin,” tuturnya.
Dokter mendiagnosis anaknya mengalami nefrotik sindrom atau kebocoran ginjal. Seiring waktu, kondisinya berkembang menjadi gagal ginjal sehingga mengharuskan sang anak menjalani hemodialisis secara rutin dua kali dalam sepekan.
Sudah dua tahun terakhir, Siti bolak-balik Bogor–Jakarta untuk memastikan anaknya mendapatkan terapi terbaik di RSCM. Dalam sebulan, sedikitnya delapan kali prosedur cuci darah dijalani. Jika ditotal, jumlahnya sudah ratusan kali.
“Di RSCM sudah 2 tahun sih, nggak tahu berapa kalinya, karena banyak ya,” ujarnya.
Di tengah keterbatasan ekonomi, dengan suami yang bekerja sebagai tukang bangunan dan dirinya sebagai ibu rumah tangga, Siti bersyukur biaya pengobatan ditanggung melalui BPJS Kesehatan melalui skema Penerima Bantuan Iuran (PBI) dari pemerintah.
Dia mengaku sempat mendengar kabar mengenai penonaktifan sejumlah peserta BPJS PBI, termasuk anaknya. Namun ternyata tidak. Saat digunakan, kartu BPJS anaknya tetap aktif sehingga pengobatan tidak terhambat.
“Iya, tahu sih. Cuma kayaknya pas saya menggunakan lagi, udah aktif itu kayaknya. Karena saya gak nge-check karena saya gak ngerti. Jadi pas gunain lagi udah aktif,” tuturnya.
Dalam proses administrasi, dia mengakui pendaftaran daring kerap menjadi tantangan tersendiri.
“Kadang-kadang ada terkendala juga, kadang-kadang juga enggak gitu ya. Kadang-kadang, yang susah sih buat (pendaftaran) online,” ujarnya.
Meski demikian, secara umum dia menilai prosedur rujukan dan pelayanan medis berjalan baik. Selama dua tahun mendampingi anaknya di RSCM, dia merasa terbantu dengan sistem dan tenaga medis yang menangani.
Bagi Siti, BPJS PBI bukan sekadar kartu jaminan kesehatan, melainkan penopang harapan bagi keluarganya. Tanpa bantuan tersebut, biaya rutin cuci darah tentu menjadi beban yang sangat berat.
Dia pun menyampaikan harapan agar program jaminan kesehatan terus diperkuat dan semakin mudah diakses masyarakat yang membutuhkan. Kepada Presiden Prabowo Subianto, dia juga menyampaikan rasa terima kasihnya.
“Harapan saya sih semoga BPJS kesehatan ini semakin diutamain ya, karena banyak juga yang sakit gitu, karena itu membantu buat orang-orang yang membutuhkan. Harapannya ya semakin dibagusin aja gitu,” ujarnya.
“Ya, buat Pak Presiden, Pak Prabowo, semoga dibagusin lagi pelayanannya. Terima kasih sudah memudahkan, meringankan buat berobat. Terima kasih banyak,” tuturnya.










