Kondisi Terkini Tanah Bergerak di Padasari Tegal, Ratusan Pengungsi Mulai Stres
TEGAL, iNews.id – Kondisi kesehatan warga korban bencana tanah bergerak di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, mulai menurun. Setelah lebih dari sepekan bertahan di posko pengungsian, ratusan warga kini mulai mengeluhkan berbagai penyakit. Selain menderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), mereka juga diserang hipertensi karena stres dan kelelahan.
Berdasarkan data terbaru, balita dan lansia menjadi kelompok yang paling rentan terserang penyakit akibat kondisi lingkungan pengungsian yang kurang ideal.
Sedikitnya 132 hingga 143 warga dilaporkan telah terjangkit ISPA. Suhu udara yang fluktuatif di lokasi pengungsian dituding menjadi penyebab utama menurunnya imunitas warga.
"Kondisi di pengungsian cukup berat. Kalau siang hari terasa sangat panas, tapi kalau malam berubah menjadi dingin sekali. Ini membuat warga, terutama balita dan anak-anak, mudah terserang batuk, pilek, dan sakit tenggorokan," ungkap Mafiroh, salah seorang warga korban bencana di lokasi pengungsian, Rabu (11/2/2026).
Petugas medis di lapangan melaporkan adanya lonjakan kunjungan pasien setiap harinya. Dalam satu pos kesehatan, tercatat ada 30 hingga 60 orang yang datang memeriksakan diri dengan berbagai keluhan.
Selain ISPA, petugas medis Ikhlas Setya menyebutkan beberapa penyakit lain yang mulai mewabah di kalangan pengungsi, di antaranya myalgia atau nyerit otot, hipertensi akibat kelelahan hingga diare.
"Hampir setiap hari pos kesehatan didatangi puluhan warga. Kami terus berupaya memberikan pengobatan dan vitamin, namun kondisi lingkungan memang sangat berpengaruh pada kesehatan mereka," kata Ikhlas.
Melihat kondisi kesehatan yang terus memburuk, warga korban bencana kini berharap besar pada janji pemerintah terkait penyediaan tempat tinggal yang lebih layak. Mereka meminta Pemerintah Kabupaten Tegal segera merealisasikan pembangunan Hunian Sementara (Huntara).
Warga mengaku tidak bisa terus-menerus bertahan di pengungsian yang padat dan terbuka. Mereka menginginkan lokasi hunian yang lebih aman dari ancaman tanah bergerak namun memiliki fasilitas kesehatan dan sanitasi yang lebih baik guna mencegah penyebaran penyakit lebih luas.










