Mengenal Roehana Koeddoes, Pahlawan dan Jurnalis Perempuan yang Berani Bersuara
JAKARTA, iNews.id - Roehana Koeddoes menjadi jurnalis perempuan pertama di Indonesia yang mendobrak keterbatasan zaman lewat tulisan dan keberaniannya. Lahir di Sumatera Barat, Roehana mendirikan surat kabar Soenting Melajoe pada tahun 1912, sebuah media yang menjadi corong aspirasi perempuan di masa kolonial.
Sudah jelas, sebagai perempuan yang berani bersuara di masa itu, perjalanan kariernya tidaklah mudah. Ia harus berhadapan dengan stigma sosial demi mengangkat derajat kaum wanita melalui pendidikan dan kemandirian ekonomi. Tak hanya melalui tulisan, suara perempuan zaman itu juga ia gaungkan dan perjuangkan melalui yayasan Amai Setia yang ia bentuk.
Keberanian dan peran krusial Roehana Koeddoes kini menjadi refleksi dan inspirasi bagi banyaknya jurnalis perempuan di masa kini. Salah satunya adalah Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid yang juga merupakan seorang jurnalis perempuan sebelum ia melangkahkan kaki sebagai menteri di Kabinet Merah Putih.
Persib Bandung vs Persija Jakarta: Mauricio Souza Bicara Kekuatan Maung Bandung Jelang El Clasico
Ia menyebut, Roehana Koeddoes menjadi salah satu inspirator dirinya saat menjadi jurnalis. Meutya membayangkan bagaimana tantangan yang dihadapi Roehana Koeddoes saat menjadi jurnalis di zaman kolonial untuk menyuarakan hak perempuan. Hal itu menjadi dasar keberanian dirinya menjadi jurnalis yang tangguh di berbagai medan liputan.
Meutya menceritakan berbagai pengalaman liputan dirinya yang cukup menantang. Seperti saat ia dikirim ke Aceh dan Irak pada masa konflik. Keberanian dirinya timbul karena mencontoh keberanian Roehana Koeddoes.
“Ketika saya mulai aja ketika saya dikirim ke Aceh misalnya waktu itu Darurat Militer di Aceh tahun 2003 itu tuh di kantor tuh heboh. Kenapa seorang perempuan dikirim ke daerah konflik? Kenapa seorang perempuan dikirim ke Irak? Dan ketika disandera semua orang mengatakan itu kan perempuan,” ujar Meutya dalam Diskusi Film "3 Wajah Roehana Koeddoes" yang mengangkat sosok Roehana Koeddoes, jurnalis perempuan pertama Indonesia sekaligus Pahlawan Nasional, di Kantor IDN Times, Jakarta, Jumat (6/2/2026).
Senada dengan Meutya, Ketua Umum Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI), Khairiah Lubis turut menjadikan Roehana Koeddoes sebagai idola dirinya. Roehana, baginya menjadi inspirator agar jurnalis perempuan bisa terus merdeka berpikir dan menulis apa yang harus mereka perjuangkan.
“Kalau kita lihat tulisan-tulisan Roehana Koeddoes di Sunting Melayu, isinya tentang bagaimana perempuan itu bisa merdeka berpikir dan bisa sekolah. Jadi perlu media untuk menyebarluaskan sosoknya dan mengingat bahwa pada masa lalu ada perempuan jurnalis yang sudah menuliskan tentang apa yang harus diperjuangkan," kata Khairiah.
Ia menilai, semangat yang digaungkan Roehana Koeddoes sangat penting bagi jurnalis perempuan masa kini. Khairiah berharap dengan mengambil api semangat Roehana guna memastikan hak-hak jurnalis perempuan terpenuhi. Hal itu termasuk memberikan ruang bagi suara perempuan dalam setiap pemberitaan, baik sebagai subjek berita maupun sebagai narasumber yang kredibel, guna mengimbangi dominasi suara laki-laki di ruang publik.
"Pelajaran dari Roehana Koeddoes adalah perempuan jurnalis itu harus berani bersuara dan saling mendukung. Di FJPI kita mengambil semangat itu agar jurnalis perempuan bisa terus maju, berkembang, dan mendapatkan hak-haknya serta menempati posisi strategis di media," kata Khairiah.
Sementara itu, jurnalis perempuan Najwa Shihab turut merefleksikan semangat jurnalis perempuan pertama Indonesia, Roehana Koeddoes yang tetap bersuara meski menghadapi berbagai tekanan.
Menurut Najwa, apabila ruang-ruang konvensional semakin sulit dipertahankan karena alasan bisnis atau tekanan lainnya, jurnalis harus berani mencari medium baru.
"Ruangnya bisa berbeda, mediumnya bisa berganti, tapi spirit-nya (harus tetap ada). Ada banyak cara menurut saya sekarang yang bisa dilakukan dan semua cara itu valid," katanya.
Trini Tambu, Ketua Yayasan Amai Setia juga menjadikan Roehana Koeddoes sebagai refleksi para jurnalis perempuan agar lebih percaya diri serta menghasilkan banyak pemikiran kritis.
"Saya rasa yang penting adalah rasa percaya diri dan juga bahwa wanita itu sangat mampu. Tidak hanya harus bergantung kepada pria ya, jadi bisa mandiri sendiri dan dengan pemikiran yang kritis bisa menghasilkan tulisan-tulisan yang sangat penting," ujar Trini.










