Trump Tolak Tawaran Putin Perpanjang Kesepakatan Nuklir AS-Rusia New START
WASHINGTON, iNews.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menolak tawaran mitranya dari Rusia, Vladimir Putin, yang mengusulkan perpanjangan perjanjian nuklir New START. Perjanjian yang membatasi pengerahan senjata nuklir kedua negara itu resmi berakhir pada Rabu lalu.
Trump ingin para negosiator kedua negara duduk bersama dan merundingkan perjanjian baru kaerena kesepakatan lama yang diteken pada masa pemerintahan Presiden Barack Obama dan diperpanjang oleh Joe Biden, "dinegosiasikan dengan buruk".
“Daripada memperpanjang ‘NEW START’ (kesepakatan yang dinegosiasikan dengan buruk oleh Amerika Serikat yang, selain itu, dilanggar secara terang-terangan), kita seharusnya meminta para ahli nuklir untuk mengerjakan perjanjian baru yang lebih baik dan modern dan bisa bertahan lama di masa depan,” kata Trump, dalam pernyataan di Truth Social, dikutip Jumat (6/2/2026).
Trump sebelumnya mengatakan China harus terlibat dalam perjanjian baru tersebut karena mengalami perkembangan pesat dalam produksi senjata nuklir.
Namun China dengan tegas menolak desakan Trump dengan alasan, jumlah hulu ledak nuklir yang dimilikinya masih jauh dibandingkan AS dan Rusia.
Berakhirnya New START berarti menghapus kesepakatan nuklir besar-besaran AS dan Rusia. Kondisi ini memicu kekhawatiran tentang potensi perlombaan senjata global di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dunia.
Putin pdaa 2025 mengaytakan, Rusia siap mematuhi perjanjian tersebut selama setahun lagi jika AS berkomitmen untuk melakukan hal yang sama. Namun AS mengabaikan tawaran Rusia.
Rusia menyesalkan berakhirnya perjanjian New START.
Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan, meski New START berakhir, Rusia akan menerapkan pendekatan bertanggung jawab terhadap senjata nuklirnya. Namun hal itu akan bergantung pada kepentingan keamanan nasional.










