Kisah Pilu Siswi SD di Kulonprogo, Sekolah Sambil Momong Adik karena Ibunda Derita Kanker

Kisah Pilu Siswi SD di Kulonprogo, Sekolah Sambil Momong Adik karena Ibunda Derita Kanker

Nasional | inews | Rabu, 28 Januari 2026 - 21:06
share

KULONPROGO, iNews.id - Siswi SD Negeri Gembongan, Kapenewon Sentolo, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta menunjukkan semangat luar biasa dalam menuntut ilmu meski menghadapi keterbatasan keluarga. Ariendra Raela Irgantari, berusia 9 tahun, setiap hari berangkat ke sekolah sambil mengasuh adiknya yang berusia 4 tahun.  

Hal ini dilakukan karena sang ibunda, Rubiyanti harus menjalani perawatan intensif akibat kanker payudara. Rubiyanti yang menjadi orangtua tunggal, rutin menjalani kemoterapi di Rumah Sakit (RS) Hardjolukito selama 30 hari berturut-turut. 

Kondisi tersebut membuat Raela harus membawa adiknya ke sekolah, sementara adik bungsunya ikut mendampingi sang ibu di rumah sakit.  

Meski harus menempuh perjalanan lebih dari satu kilometer dengan bersepeda dan berjalan kaki, Raela tetap ceria dan bersemangat. "Soalnya mama radioterapi," kata Raela, Rabu (28/1/2026).

Dia bercita-cita menjadi seorang dokter agar kelak bisa mengobati banyak orang dan bahkan ingin mendirikan rumah sakit sendiri. "Ingin jadi dokter," ucapnya. 

Pihak sekolah memberikan dispensasi demi kemanusiaan. Kepala SD Negeri Gembongan, Pri Hastuti Komarul menyebut, Raela tetap berprestasi dan cerdas meski harus mengasuh adiknya di kelas. 

Sang adik pun dinilai penurut dan tidak mengganggu proses belajar mengajar.  "Jadi ketika ibunya mau kemoterapi dia kerepotan kalau harus membawa puteranya yang masih kecil. Ketika diminta menjaga adiknya di rumah, Raela tidak mau karena takut ketinggalan pelajaran, terus ibunya datang ke sekolah memohon izin Raela sekolah membawa adiknya dan kami mengizinkan," ujar Pri Hastuti.

Sementara itu, Rubiyanti mengaku kesulitan mengasuh ketiga anaknya di tengah kondisi kesehatan yang menurun dan keterbatasan ekonomi. 

"Radioterapinya 30 kali. Sekarang tinggal 20 kali lagi," ucap Rubiyanti.

Sebagai buruh pembungkus minuman kemasan, penghasilannya tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari. Meski memiliki jaminan kesehatan, biaya perjalanan ke rumah sakit yang mencapai Rp200.000 per hari hanya bisa ditutupi melalui donasi.  

Topik Menarik