Apa Itu Surrogate, Prosedur Lahirnya Anak Ketiga Meghan Trainor?
JAKARTA, iNews.id – Keputusan penyanyi dunia Meghan Trainor menggunakan surrogate untuk kelahiran anak ketiganya kembali jadi sorotan. Banyak publik mencekam prosedur surrogate atau ibu pengganti ini.
Meski dikecam, Meghan Trainor punya alasan di balik keputusannya memilih surrogate untuk anak ketiganya. Menurut Meghan, ini demi kebaikan dia sendiri dan bayinya. Tidak dijelaskan secara pasti apa maksud di balik pernyataan tersebut.
"Ini bukan pilihan pertama kami, tapi kami melakukan diskusi tanpa henti dengan para dokter sepanjang perjalanan ini, dan ini adalah cara paling aman bagi kami untuk terus menumbuhkan keluarga," kata Meghan, dikutip dari Independent, Kamis (22/1/2026).
"Kami sangat bersyukur atas pilihan ini," tambahnya.
Di kesempatan yang sama, Meghan membela tindakan surrogate atau ibu pengganti. Dia sadar betul bahwa prosedur kehamilan dengan cara surrogate masih dipandang negatif di masyarakat global, padahal menurutnya, surrogate tetap layak mendapatkan penghormatan yang sama seperti cara lain dalam membangun keluarga.
"Aku ingin orang-orang tahu bahwa surrogate hanyalah cara indah lainnya untuk membangun keluarga. Ini bukan sesuatu yang perlu dihakimi. Ini berakar pada kepercayaan, sains, cinta, dan kerja tim," ungkap Meghan.
Dia pun menyampaikan banyak terima kasih kepada ibu pengganti yang telah membantu proses kelahiran putrinya. Dia menggambarkan sosok ibu pengganti itu sebagai pribadi yang luar biasa.
"Ibu pengganti adalah orang yang paling tidak mementingkan diri sendiri, kuat, dan penuh kasih yang pernah aku temui. Kami merasa sangat terhubung sepanjang perjalanan ini, dan aku akan selalu bersyukur atas perawatan dan cinta yang ditunjukkannya kepada putri kami," kata Meghan Trainor.
Menjadi pertanyaan sekarang, apa itu surrogate? Simak berita selengkapnya di artikel ini.
Apa Itu Surrogate?
Dalam terminologi medis internasional, surrogate adalah perempuan yang mengandung dan melahirkan bayi bagi orang lain melalui prosedur assisted reproductive technology (ART). Praktik ini diakui sebagai bagian dari layanan infertilitas modern yang juga mencakup fertilisasi in vitro (IVF).
Organisasi kesehatan dunia menempatkan ART sebagai solusi medis bagi individu atau pasangan yang tidak dapat hamil secara alami karena alasan kesehatan, seperti gangguan rahim, risiko komplikasi kehamilan, atau kondisi medis kronis yang membahayakan jika hamil.
Prosedur Medis yang Dijalani
Dalam praktik kesehatan, surrogacy yang paling banyak diterapkan adalah surrogate gestasional. Pada metode ini, surrogate tidak memiliki hubungan genetik dengan bayi karena embrio dibentuk di laboratorium melalui IVF, lalu ditanamkan ke rahim surrogate.
Secara medis, tahapan yang dijalani meliputi:
- Skrining kesehatan menyeluruh, termasuk pemeriksaan organ reproduksi, penyakit menular, hormon, dan kesiapan psikologis.
- Pembentukan embrio melalui IVF dengan standar laboratorium yang ketat.
- Transfer embrio yang dilakukan oleh tenaga medis terlatih.
- Pemantauan kehamilan berkelanjutan, sama seperti kehamilan berisiko rendah hingga tinggi, tergantung kondisi surrogate.
Organisasi kesehatan global menegaskan bahwa semua prosedur ART harus berbasis bukti ilmiah, dilakukan oleh fasilitas yang kompeten, dan memprioritaskan keselamatan ibu pengganti serta janin.
Alasan Kesehatan di Balik Surrogacy
Dalam konteks kesehatan masyarakat, surrogacy dipandang sebagai alternatif medis, bukan sekadar pilihan personal. Prosedur ini umumnya dipilih ketika kehamilan berisiko menimbulkan komplikasi serius, baik bagi ibu maupun bayi.
Pendekatan ini sejalan dengan prinsip hak kesehatan reproduksi, di mana setiap individu berhak memperoleh layanan medis yang memungkinkan memiliki keturunan secara aman, selama dilakukan dengan persetujuan sadar dan tanpa paksaan.
Meski memberikan harapan, surrogate tetap membawa risiko medis, seperti komplikasi kehamilan, efek hormonal, dan tekanan psikologis. Karena itu, organisasi kesehatan dunia menekankan pentingnya pengawasan medis berkelanjutan, dukungan kesehatan mental bagi surrogate, serta sistem perlindungan yang mencegah eksploitasi perempuan dalam praktik ART.
Jadi, itu dia penjelasan mengenai surrogate atau surrogacy yang dipilih Meghan Trainor untuk anak ketiganya. Semoga informasi ini bermanfaat.









