Viral Dokter Tompi Foto Bareng Wapres Gibran: Komisaris atau Dirut Pertamina?
JAKARTA, iNews.id - Dokter Tompi kembali viral di media sosial. Setelah membela Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang menjadi bahan stand up comedy Pandji Pragiwaksono, Dokter Tompi terlihat foto bareng dengan Wapres Gibran.
Momen itu pun kemudian disorot netizen. Terlebih, keterangan foto yang dibubuhkan Dokter Tompi membuat netizen bertanya-tanya apa maksud di balik kata demi kata tersebut.
Memangnya, apa yang ditulis Tompi setelah bertemu dengan Wapres Gibran?
"Komisaris atau Dirut Pertamina, ya? Coba cocoknya apa Melaney Ricardo," ujar dr Tompi, dikutip Senin (5/1/2026).
Pernyataan tersebut memicu perdebatan hangat di media sosial. Apa kata netizen?
"Paling enggak Wamenkes lah," kata @har***.
"Bismillah Dirut RSCM," ungkap @bib***.
"Kirain Wapres jadi mau dioperasi plastik sama dokter Tompi," ujar @des***.
Pernyataan netizen itu seperti lelucon satir. Terlebih, sebelumnya Tompi membela Wapres Gibran, karena mendapat serangan dari Pandji Pragiwaksono.
Ya, beberapa hari lalu dokter Tompi marah besar ke Pandji karena dianggap kurang bijak dalam menyerang Wapres Gibran. Berikut pernyataan lengkap Dokter Tompi membela Wapres Gibran.
"Menertawakan kondisi fisik seseorang, apa pun konteksnya, bukanlah bentuk kritik yang cerdas," kata Dokter Tompi.
Dia melanjutkan, "Apa yang terlihat 'mengantuk' pada mata, dalam dunia medis dikenal sebagai Ptosis atau suatu kondisi anatomis yang bisa bersifat bawaan, fungsional, atau medis, dan sama sekali bukan bahan lelucon."
Di kesempatan yang sama, dr Tompi mengimbau kepada siapa pun bahwa yang namanya mengkritik pemerintah itu sah-sah saja, tapi kalau merendahkan kondisi tubuh seseorang, itu lain cerita.
"Kritik boleh, satire boleh, humor pun sah. Namun, merendahkan kondisi tubuh seseorang bukanlah kecerdasan, melainkan kemalasan berpikir," tegas dr Tompi.
"Mari naikkan standar diskusi publik kita: kritisi gagasan, kebijakan, dan tindakan, bukan fisik yang tidak pernah dipilih oleh pemiliknya. Karena martabat manusia seharusnya tidak menjadi punchline," tambahnya.










