Harga Tembaga Jatuh Jelang Akhir Pekan, Kekhawatiran Investasi AI Tekan Pasar

Harga Tembaga Jatuh Jelang Akhir Pekan, Kekhawatiran Investasi AI Tekan Pasar

Ekonomi | idxchannel | Jum'at, 6 November 2026 - 15:54
share

IDXChannel – Harga tembaga melemah pada perdagangan Jumat (6/11/2026) dan berpotensi mencetak penurunan mingguan terbesar sejak Maret.

Tekanan datang dari aksi jual saham teknologi global yang turut mengguncang sentimen pasar terhadap prospek investasi kecerdasan buatan (AI).

Kontrak tembaga acuan untuk pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange (LME) turun 1,3 persen menjadi USD13.663 per ton pada pukul 14.00 WIB.

Dengan pergerakan tersebut, harga tembaga diperkirakan mencatat penurunan 3,44 persen sepanjang pekan ini.

Sementara itu, kontrak tembaga yang paling aktif diperdagangkan di Shanghai Futures Exchange (SHFE) melemah 1,08 persen menjadi 106.830 yuan atau setara USD16.018,17 per ton.

Pelemahan tersebut mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap prospek investasi AI. Harga tembaga kini semakin dipengaruhi oleh sentimen terhadap ekspansi pusat data (data center).

Analis Utama CRU, Craig Lang, mengatakan, perkembangan investasi pusat data menjadi salah satu faktor yang semakin memengaruhi pergerakan harga tembaga.

Saham-saham teknologi tertekan setelah kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu sela Amerika Serikat (AS) memicu kekhawatiran mengenai peningkatan pengawasan regulasi yang berpotensi membatasi ekspansi industri AI.

Di sisi lain, keterbatasan pasokan memberikan bantalan bagi harga tembaga sehingga penurunannya tidak semakin dalam.

"Saya akan berhati-hati untuk menyebut kondisi ini sebagai koreksi yang berkelanjutan, mengingat tantangan pasokan tambang yang masih berlangsung dan ketersediaan logam yang sangat ketat di luar AS," kata Lang, seperti dikutip Reuters.

Persediaan tembaga di gudang-gudang yang dipantau SHFE turun lebih dari 24 persen sepanjang pekan ini menjadi hanya 33.848 ton. Angka tersebut merupakan level terendah dalam hampir tiga tahun.

Premi tembaga Yangshan yang menjadi salah satu indikator permintaan impor di China juga meningkat menjadi USD210 per ton pada Kamis. Angka tersebut menyamai rekor tertinggi sepanjang masa.

Kondisi ini terjadi ketika fasilitas peleburan tembaga di China menghadapi tekanan ganda, yakni biaya pengolahan yang negatif serta penurunan harga asam sulfat.

Sementara itu, persediaan di gudang-gudang di luar AS terus terkuras karena pasokan dialihkan ke negara tersebut menjelang kemungkinan pemberlakuan tarif impor tembaga olahan.

Lang menilai keterbatasan pasokan fisik tersebut dapat menopang harga tembaga di tengah melemahnya sentimen investor.

"Keterbatasan pasokan fisik ini seharusnya memberikan dukungan terhadap harga di tengah melemahnya sentimen investor," ujarnya.

Di antara logam industri lainnya yang diperdagangkan di LME, aluminium turun 0,54 persen, seng melemah 1,42 persen, timah hitam terkoreksi 0,45 persen, nikel turun 0,23 persen, sedangkan timah menguat 0,83 persen.

Di SHFE, harga aluminium turun tipis 0,04 persen, seng melemah 1,35 persen, timah hitam terkoreksi 0,03 persen, nikel menguat 2,14 persen, dan timah anjlok 3,45 persen.

Secara mingguan, persediaan logam di gudang-gudang yang dipantau SHFE mengalami penurunan secara merata, dengan penurunan terbesar terjadi pada aluminium dan timah hitam. (Aldo Fernando)

Topik Menarik