Menambang Cuan Dividen dari Sektor Komoditas, Saham Ini Jadi Sorotan
IDXChannel – Harga komoditas energi masih menunjukkan ketahanan sepanjang Oktober 2026, di tengah koreksi harga logam dasar dan emas.
Kondisi tersebut membuat saham-saham batu bara, pertambangan emas, hingga gas bumi tetap menarik dicermati, terutama karena menawarkan potensi imbal hasil dividen yang tinggi.
Analis Indo Premier Sekuritas, Ryan Winipta, dalam riset yang terbit pada 4 November 2026, menilai harga batu bara termal dan minyak mentah masih lebih unggul dibandingkan logam dasar.
Ketatnya pasokan menjadi salah satu faktor yang menopang harga kedua komoditas tersebut.
Harga minyak mentah Brent sempat menembus USD115 per barel pada puncaknya sepanjang Oktober.
Namun, harga kemudian terkoreksi seiring munculnya peluang perundingan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran pada awal November.
Ryan menilai arah harga minyak masih sangat bergantung pada perkembangan konflik di Timur Tengah.
Jika konflik berlanjut, harga Brent berpotensi menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah, bahkan melampaui USD150 per barel.
IHSG Hari Ini Dibuka Menguat ke 6.139
Risiko tersebut diperkuat oleh tingginya diesel crack spread yang saat ini mencapai USD95 per barel serta menipisnya cadangan minyak strategis atau Strategic Petroleum Reserve (SPR) AS dan Jepang.
Sebaliknya, tercapainya kesepakatan damai dapat mendorong harga Brent turun tajam ke kisaran USD60-USD70 per barel.
Meski demikian, kebutuhan pengisian kembali persediaan minyak atau storage refill diperkirakan dapat menjadi penopang harga dalam jangka menengah, sehingga Brent berpeluang bertahan setidaknya di level USD80 per barel.
Di pasar batu bara, harga juga masih bergerak menguat sepanjang Oktober. Harga batu bara berdasarkan indeks ICI naik sekitar 3-11 persen, sedangkan harga Newcastle meningkat 3 persen secara bulanan (month-on-month/MoM).
Namun, terdapat risiko yang perlu dicermati oleh emiten batu bara.
Pemantauan Indo Premier menunjukkan ketinggian air di sejumlah wilayah Kalimantan telah membaik signifikan seiring meningkatnya frekuensi hujan dalam beberapa pekan terakhir.
Kondisi ini berpotensi memperlancar aktivitas produksi dan pengiriman batu bara, sehingga dapat menekan harga komoditas tersebut.
Sementara itu, prospek nikel mulai menghadapi kemungkinan perubahan arah setelah sebelumnya mengalami tekanan.
Harga nikel di London Metal Exchange (LME) kembali turun 5 persen secara bulanan menjadi sekitar USD15.300 per ton. Harga bijih nikel saprolit kadar 1,6 persen juga turun 9 persen dan kini sedikit berada di bawah harga patokan mineral (HPM).
Pelemahan permintaan, khususnya dari sektor kendaraan listrik (electric vehicle/EV), turut menekan harga produk turunan nikel.
Harga mixed hydroxide precipitate (MHP) dan nikel sulfat masing-masing terkoreksi 7 persen dan 5 persen sepanjang Oktober.
Menariknya, koreksi harga tersebut terjadi ketika produksi MHP Indonesia justru mengalami penurunan secara tahunan.
Ke depan, harga nikel berpotensi kembali menguat apabila pemerintah memangkas kuota Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) untuk 2027 dibandingkan kuota sekitar 300 juta ton pada 2026 setelah persetujuan.
Indo Premier mengindikasikan adanya arah kebijakan tersebut dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
OJK Kantongi 29 Rencana Penawaran Umum Baru Senilai Rp26,47 Triliun per Akhir September 2026
Dalam jangka pendek, keterbatasan pasokan air di kawasan Morowali juga berpotensi menghambat aktivitas produksi dan memicu pemulihan harga nikel.
Lebih lanjut, harga emas dunia turun 5 persen secara bulanan pada Oktober, ketika kenaikan harga minyak memperbesar ekspektasi inflasi dan meningkatkan peluang kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) pada Desember 2026.
Peluang kenaikan suku bunga tersebut sempat diperkirakan mencapai sekitar 80 persen.
Namun, hasil pemilihan paruh waktu AS yang dimenangkan Partai Demokrat memicu pemulihan harga emas.
Harga emas kini kembali diperdagangkan di atas USD4.000 per troy ons, didukung pelemahan dolar AS dan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap ekspansi pusat data berbasis kecerdasan buatan (AI) yang mendorong rotasi dana dari saham-saham AS.
Ryan menilai tren kenaikan emas akan lebih terkonfirmasi apabila konflik AS-Iran mencapai penyelesaian dan harga minyak berbalik turun.
Saham Berdividen Tinggi Jadi Pilihan
Di tengah dinamika harga komoditas tersebut, Indo Premier masih mengunggulkan saham-saham dengan potensi dividen menarik, terutama dari sektor batu bara, logam, dan gas bumi.
Untuk sektor batu bara, saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menjadi pilihan utama.
Keduanya dinilai menarik seiring harga batu bara yang masih relatif tinggi dan potensi pembagian dividen yang besar.
Khusus AADI, estimasi imbal hasil dividen (dividend yield) berpotensi melampaui 10 persen apabila memperhitungkan kemungkinan pembagian dividen khusus dari Kestrel.
Selain batu bara, PT ANTAM (Persero) Tbk (ANTM) juga masuk dalam daftar pilihan dengan estimasi dividend yield sekitar 12 persen, dengan asumsi rasio pembagian dividen (dividend payout ratio/DPR) sebesar 70 persen.
Sementara itu, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) menawarkan estimasi imbal hasil dividen sekitar 15 persen setelah memperhitungkan tambahan provisi terkait Gunvor. Tanpa tambahan provisi tersebut, estimasi dividend yield PGAS bahkan mencapai 16 persen. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.









