GENTING Collaboration Summit 2026, BKKBN Perkuat Sinergi Percepatan Penurunan Stunting
IDXChannel—Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN) menggelar GENTING Collaboration Summit 2026 untuk memberikan penghargaan kepada berbagai pihak yang terlibat dalam upaya percepatan penurunan stunting melalui Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING).
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Wihaji, menjelaskan bahwa GENTING menjadi gerakan gotong royong yang melibatkan masyarakat, dunia usaha, dan berbagai pemangku kepentingan.
Pelaksanaan program ini mengandalkan kontribusi di luar dukungan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN). Sepanjang 2026, GENTING telah memberikan pendampingan kepada 1,3 juta anak dengan melibatkan sebanyak 182.000 orang tua asuh.
Wihaji memastikan setiap bantuan yang disalurkan akan dilaporkan kepada para orang tua asuh setelah program berjalan selama satu tahun sebagai bentuk transparansi dan pertanggungjawaban.
"Alhamdulillah, laporan dari teman-teman sekalian yang Bapak/Ibu bantu hari ini, tahun ini sudah 1,3 juta. Anak kita, anak Bapak-Ibu semua," ujar Wihaji dalam acara GENTING Collaboration Summit 2026 di Jakarta, Kamis (5/11/2026).
Wihaji mengungkapkan, total kontribusi yang berhasil dihimpun melalui program GENTING mencapai sekitar Rp96 miliar. Penggunaan dana tersebut tercatat secara terperinci berdasarkan jenis bantuan yang diberikan, mulai dari pemenuhan kebutuhan gizi, pembangunan rumah layak huni, penyediaan jamban, hingga pemenuhan akses air bersih.
"Tapi Rp96 miliar, kayak gitu ya, bisa kelihatan. Melihatnya, ini angka-angkanya semuanya bisa dipertanggungjawabkan, semuanya dipertanggungjawabkan. Datanya ada, termasuk nutrisinya berapa, rumah layak huninya berapa, jambannya berapa, air bersihnya berapa," jelasnya.
Dia menambahkan, penyaluran bantuan GENTING dilakukan secara langsung oleh orang tua asuh kepada keluarga yang membutuhkan. Skema tersebut sengaja diterapkan tanpa perantara kementerian agar kontribusi yang diberikan benar-benar berasal dari partisipasi masyarakat, bukan pembiayaan negara.
"Ini bagian dari warga negara kita yang memang membutuhkan. Semangatnya adalah membantu agar anak-anak kita tidak mengalami stunting," ucapnya.
Wihaji menyebutkan, terdapat sekitar 8,1 juta Keluarga Risiko Stunting (KRS) di Indonesia yang membutuhkan perhatian dalam upaya pencegahan stunting.
Untuk memperluas jangkauan intervensi, Kemendukbangga/BKKBN membidik satu juta anak setiap tahun melalui berbagai bantuan, termasuk pemenuhan nutrisi, penyediaan air bersih, edukasi, dan program pendukung lainnya.
“Harapannya per tahun 1 juta anak kita coba intervensi, kita bantu dengan berbagai program. Ada yang bentuknya nutrisi, ada yang bentuknya air bersih, ada yang edukasi, dan banyak hal yang berkenaan dengan pencegahan stunting,” kata Wihaji.
Selain memaparkan capaian program, Kemendukbangga/BKKBN juga menyerahkan penghargaan dalam rangkaian GENTING Collaboration Summit 2026.
Apresiasi tersebut diberikan kepada sejumlah pihak yang dinilai berkontribusi terhadap percepatan penurunan stunting, mulai dari pemerintah kabupaten/kota, pemerintah provinsi, badan usaha milik negara (BUMN), perusahaan swasta, hingga yayasan.
Momen Suporter Timnas Salat Magrib Berjemaah Jelang Final FIFA ASEAN Cup Indonesia vs Thailand
Wihaji mengatakan, pemberian penghargaan tersebut merupakan bentuk pengakuan pemerintah atas keterlibatan berbagai elemen dalam mendukung program pembangunan keluarga dan kependudukan.
Dia menegaskan, keberhasilan program tidak dapat dicapai hanya melalui kerja pemerintah, melainkan membutuhkan sinergi lintas sektor dengan pendekatan pentahelix.
“Ini semua dalam rangka memberikan penghormatan, memberikan penghargaan kepada stakeholder yang selama ini bersama-sama. Karena dalam konsep kita, kita tidak bisa kerja sendirian, mesti pentahelix, melibatkan tidak hanya kementerian terkait, tapi juga stakeholder terkait,” pungkasnya.
(Nadya Kurnia)










