BEI Tegaskan Sangat Serius Benahi Pasar Modal Indonesia
IDXChannel - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menegaskan keseriusannya dalam membenahi pasar modal Indonesia. Perbaikan difokuskan pada tiga sisi, yakni transparansi, likuiditas, dan efektivitas pengawasan perdagangan.
Langkah tersebut dilakukan untuk menjawab berbagai isu yang disoroti penyedia indeks global seperti MSCI, khususnya terkait kredibilitas dan tata kelola pasar modal Indonesia.
Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik mengatakan, pasar modal Indonesia sebenarnya masih menunjukkan pertumbuhan positif di tengah berbagai dinamika yang terjadi sepanjang tahun ini. Meski begitu, dia mengakui pasar modal Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama menyangkut transparansi, kredibilitas, dan tata kelola yang menjadi perhatian investor global.
IHSG Anjlok 6,96 Persen Sepanjang September 2026, Investor Asing Jual Saham Rp10,24 Triliun
"Secara fundamental, kinerja perusahaan tercatat di Bursa masih baik. Nilai transaksi harian masih tumbuh di atas 10 persen. Jumlah investor kita tumbuh lebih dari 50 persen. Tetapi di sisi lain, kita juga menghadapi tantangan di tahun ini," katanya saat memberikan sambutan dalam acara Capital Market Summit & Expo (CMSE) 2026 di Gedung BEI, Jakarta, Kamis (5/11/2026).
Jeffrey memastikan, BEI bersama Self-Regulatory Organization (SRO) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serius melakukan berbagai pembenahan untuk meningkatkan kualitas pasar modal Indonesia.
"Kami di Bursa Efek Indonesia bersama dengan SRO dan OJK tentu sangat serius untuk meningkatkan transparansi, meningkatkan likuiditas, dan juga meningkatkan efektivitas dari pengawasan," ujarnya.
Dari sisi transparansi, BEI telah mengungkapkan informasi pemegang saham dengan kepemilikan di atas 1 persen. Selain itu, Bursa juga telah menyampaikan informasi mengenai data investor yang lebih terperinci atau granular. Upaya tersebut akan terus dilanjutkan dengan meningkatkan kualitas keterbukaan informasi.
Sementara dari sisi likuiditas, BEI berupaya memperdalam pasar, baik dari sisi permintaan maupun penawaran. Bursa juga mendorong pembentukan harga (price discovery) yang lebih baik serta peningkatan likuiditas melalui kebijakan yang tidak lagi menerapkan floor price di pasar.
Adapun dari sisi pengawasan, BEI akan meningkatkan efektivitas pemantauan perdagangan melalui penerapan real-time flagging. Sistem tersebut akan digunakan untuk mendeteksi indikasi pelanggaran dalam aktivitas perdagangan di Bursa Efek Indonesia secara langsung.
"Tentu kombinasi dari transparansi yang lebih tinggi, likuiditas yang lebih baik, dan pengawasan yang lebih efektif akan menjadi fondasi yang kuat bagi pertumbuhan pasar kita ke depan," ujar Jeffrey.
(Rahmat Fiansyah)










