Bobot Saham HSC Dihapus, Pengaruh Saham Konglo di IHSG Tak Benar-Benar Hilang

Bobot Saham HSC Dihapus, Pengaruh Saham Konglo di IHSG Tak Benar-Benar Hilang

Ekonomi | idxchannel | Selasa, 3 November 2026 - 10:24
share

IDXChannel – Penghapusan bobot saham-saham High Shareholding Concentration (HSC) dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) belum banyak mengubah dominasi konglomerasi di pasar saham domestik.

Ketika empat saham HSC milik grup besar kehilangan bobot indeks, sejumlah saham afiliasi yang masih bertahan justru memperoleh porsi lebih besar, terutama SMMA dan AMMN.

Berdasarkan perhitungan yang diolah dari data BRI Danareksa Sekuritas, bobot gabungan delapan saham afiliasi konglomerasi, yakni SMMA, AMMN, TPIA, BRPT, BRMS, EMAS, MDKA, dan BUMI, meningkat dari sekitar 12,2 persen menjadi 15,2 persen setelah penyesuaian pembobotan pada Senin (2/11/2026).

Angka tersebut merupakan hitung-hitungan IDXChannel berdasarkan data dalam presentasi sekuritas tersebut.

Sebelum rebalancing, empat saham HSC terbesar menyumbang sekitar 9,3 persen bobot IHSG. Keempatnya adalah PT DCI Indonesia Tbk (DCII) sebesar 3,6 persen, PT Bayan Resources Tbk (BYAN) 3 persen, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) 1,4 persen, dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) 1,3 persen.

Menurut pengumuman Bursa Efek Indonesia (BEI), BREN dan DSSA masuk daftar HSC pada 2 April 2026, disusul DCII dan BYAN pada 14 Juli 2026.

Konsentrasi IHSG Meningkat

Konsentrasi bobot IHSG juga semakin besar pada lima saham teratas.

Berdasarkan proyeksi BRI Danareksa, bobot gabungan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Astra International Tbk (ASII), dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) meningkat dari sekitar 30,8 persen menjadi 34,9 persen.

BBCA dan BBRI kini sama-sama mencapai batas maksimal bobot saham dalam IHSG, yakni 9 persen. Bobot BBCA turun tipis dari 9,1 persen, sedangkan BBRI meningkat dari 8,2 persen.

BMRI juga naik dari 5,9 persen menjadi 7,4 persen, ASII dari 3,9 persen menjadi 4,9 persen, dan TLKM dari 3,6 persen menjadi 4,6 persen.

Jika digabungkan dengan delapan saham afiliasi konglomerasi tersebut, bobot 13 saham itu mencapai sekitar 50,1 persen dari IHSG.

Artinya, separuh bobot indeks terkonsentrasi pada hanya 13 emiten, dengan kelompok perbankan dan saham-saham yang terafiliasi konglomerasi menjadi kontributor utamanya.

Sinar Mas

Dari Grup Sinar Mas, keluarnya DSSA dari pembobotan indeks beriringan dengan kenaikan bobot PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA). Bobot saham ini meningkat dari 2,9 persen menjadi 3,6 persen, sehingga posisinya naik dari peringkat kedelapan menjadi keenam dalam IHSG.

Kapitalisasi pasar SMMA yang diperhitungkan dalam indeks mencapai Rp61,85 triliun. Dengan bobot baru tersebut, SMMA menjadi salah satu saham konglomerasi dengan pengaruh terbesar terhadap pergerakan IHSG.

Selain DSSA, Sinar Mas juga memiliki sejumlah saham yang masuk daftar HSC, seperti SMAR, GEMS, LIFE, dan MORA. Namun, SMMA tidak termasuk di dalamnya.

Kendati demikian, besarnya bobot SMMA perlu dibaca bersama likuiditas sahamnya. Berdasarkan data perdagangan, free float SMMA tercatat 47,24 persen.

Namun, nilai transaksi hariannya relatif tipis. Dalam 239 hari bursa terakhir, median nilai transaksi harian hanya Rp73,1 juta, bahkan menyusut menjadi sekitar Rp25 juta dalam 60 hari bursa terakhir.

Pada 2 November 2026, saham SMMA hanya diperdagangkan sebanyak 18 lot dengan nilai transaksi Rp36,95 juta.

Salim dan Bakrie

Di kubu Grup Salim, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menjadi salah satu penerima kenaikan bobot terbesar. Bobot AMMN bertambah dari 2,8 persen menjadi 3,5 persen, dengan kapitalisasi pasar yang diperhitungkan dalam indeks mencapai Rp60,22 triliun.

Posisinya pun naik dari peringkat kesembilan menjadi ketujuh, melampaui PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI). Free float AMMN tercatat sebesar 22,76 persen per September 2026.

Pengaruh Salim juga terlihat melalui PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Kedua emiten tersebut dikendalikan bersama Grup Bakrie.

Setelah rebalancing, bobot BRMS meningkat dari 1,1 persen menjadi 1,4 persen. Sementara itu, bobot BUMI menjadi 1,1 persen.

Prajogo Pangestu

Keluarnya BREN dari pembobotan IHSG turut mengurangi porsi Grup Barito.

Namun, penurunannya tidak sebesar bobot BREN sebelumnya karena dua emiten lain milik Prajogo Pangestu justru memperoleh kenaikan bobot.

PT Barito Pacific Tbk (BRPT) naik dari 1,2 persen menjadi 1,6 persen, sedangkan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) meningkat dari 1,3 persen menjadi 1,6 persen.

BRPT sendiri merupakan pemegang saham BREN, sementara TPIA menjadi bagian lain dari portofolio bisnis Grup Barito.

Merdeka

Kenaikan bobot juga terjadi pada dua emiten Grup Merdeka, yakni PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) dan PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS).

Setelah rebalancing, masing-masing saham memiliki bobot sekitar 1,3 persen, sehingga kontribusi gabungannya mencapai 2,6 persen.

Singkatnya, meskipun saham-saham HSC tidak lagi diperhitungkan dalam pembobotan IHSG, pergerakan saham-saham afiliasi konglomerasi masih berpotensi memberikan pengaruh signifikan terhadap indeks.

Terlebih, BEI menerapkan evaluasi insidental terhadap saham berstatus HSC. Artinya, perubahan status HSC di luar periode evaluasi dapat langsung diikuti penyesuaian bobot saham dalam IHSG.

Dengan mekanisme tersebut, komposisi pengaruh konglomerasi terhadap indeks masih dapat berubah sewaktu-waktu. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Topik Menarik