Target Ekspor Perikanan Naik 2 Kali Lipat, KKP Perkuat Standar Mutu
IDXChannel—Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan nilai ekspor perikanan Indonesia meningkat dua kali lipat menjadi lebih dari USD10 miliar atau setara dengan Rp180,7 triliun.
Untuk mencapai target tersebut, pemerintah memperkuat standardisasi dan jaminan mutu produk perikanan melalui peningkatan layanan sertifikasi serta pemenuhan standar kualitas yang berlaku di pasar internasional.
Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan KKP, Yudi Nurul Ihsan, mengatakan pelaku usaha perikanan dalam negeri sebenarnya sudah memiliki banyak inovasi. Namun, sejumlah produk masih perlu memenuhi standar mutu agar bisa menembus pasar ekspor.
“Pertama, nilai ekspor perikanan kita harus naik dua kali lipat,” ujar Yudi dalam Forum Konsultasi Publik Layanan Balai Besar Pengujian Penerapan Produk Kelautan dan Perikanan (BBP3KP) KKP di Jakarta, Jumat (23/10/2026).
Yudi menyebut, Indonesia masih memiliki peluang untuk meningkatkan ekspor dengan mengoptimalkan pasar eksisting utama seperti Jepang, China, Eropa, dan Amerika Serikat. KKP juga menargetkan Afrika dan Timur Tengah untuk memperluas pasar.
Namun, upaya menembus pasar internasional tidak cukup hanya dengan meningkatkan produksi. Pelaku usaha juga perlu memastikan produknya memenuhi standar mutu dan persyaratan yang berlaku di negara tujuan ekspor.
Kepala Badan Standardisasi Nasional (BSN), Donny Purnomo Januardhi Effyandono, mengatakan bahwa persyaratan sertifikasi di setiap negara berbeda dan prosesnya bisa cukup rumit.
Biaya untuk memenuhi persyaratan tersebut juga dapat menjadi beban bagi nelayan dan produsen produk olahan perikanan.
Karena itu, BSN mendorong BBP3KP KKP untuk memperluas layanan sertifikasi sesuai dengan persyaratan negara tujuan ekspor. Dengan layanan yang lebih terpadu, proses pengujian diharapkan lebih efisien dan biaya sertifikasi lebih terjangkau bagi pelaku usaha.
Sementara itu, untuk pasar domestik, KKP juga mendorong peningkatan konsumsi ikan melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program ini dinilai dapat membuka peluang lebih besar bagi pemanfaatan ikan sebagai sumber protein, terutama bagi anak sekolah.
Yudi mengatakan, misi yang sedang diusahakan adalah membuat ikan lebih diminati generasi muda. Menurutnya, penyajian ikan seperti digoreng atau dibakar, dinilai kurang menarik bagi kalangan muda.
Salah satu pendekatan yang didorong adalah pengembangan olahan ikan yang lebih variatif. Yudi mencontohkan ikan patin yang diolah menjadi fish and chips bisa lebih menarik bagi anak muda dibandingkan dengan jika hanya disajikan sebagai ikan goreng atau ikan bakar.
Selain meningkatkan konsumsi, pengembangan produk olahan juga dapat membuka peluang bagi komoditas perikanan lokal untuk memiliki nilai tambah.
Indonesia sendiri memiliki beragam jenis ikan khas daerah yang masih perlu lebih banyak diperkenalkan kepada masyarakat.
Sekretaris Utama Badan Gizi Nasional (BGN), Lili Khamiliyah, mengatakan BGN mendukung peningkatan pemanfaatan ikan dalam program MBG melalui penguatan kapasitas pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Menurut Lili, para pengelola SPPG telah mengikuti training selama tiga hari mengenai pengolahan ikan. Kegiatan tersebut diharapkan membantu mereka menyajikan ikan secara aman, berkualitas, dan sesuai kebutuhan program.
Kerja sama KKP dan BGN ke depannya diharapkan dapat memperkuat pemanfaatan produk perikanan sebagai sumber protein dalam program MBG, sekaligus mendorong konsumsi ikan di masyarakat.
(Kidung Dhia)










