GIC dan Temasek Bantah Tekan MSCI untuk Turunkan Pasar Saham RI ke Standalone Market
IDXChannel - GIC dan Temasek yang dimiliki oleh pemerintah Singapura membantah tuduhan terkait tekanan kepada penyedia indeks global MSCI untuk menurunkan status pasar saham Indonesia ke standalone market.
Pernyataan tersebut menanggapi tudingan mantan Menteri Perdagangan, Muhammad Lutfi yang menyebut kedua investor institusi tersebut berupaya memicu kepanikan pasar dan menekan harga saham Indonesia.
Dikutip dari CNA, Rabu (21/10/2026), Juru bicara GIC menyatakan tuduhan terhadap perusahaan dan stafnya tidak benar. GIC menegaskan keputusan investasinya tidak didasarkan pada klasifikasi indeks atau pandangan umum terhadap suatu pasar, melainkan pada fundamental perusahaan maupun aset yang menjadi target investasi.
“Kami telah berinvestasi di Indonesia selama lebih dari 30 tahun di berbagai kelas aset dan akan terus berinvestasi ketika menemukan peluang yang menarik berdasarkan analisis bottom-up dengan mempertimbangkan risiko dan potensi imbal hasil,” kata GIC dalam pernyataan tertulis.
Secara terpisah, Kepala Investasi Global Temasek untuk Asia Pasifik di luar China dan India, Fock Wai Hoong, juga membantah tuduhan tersebut dalam konferensi pers peluncuran laporan e-Conomy SEA 2026 di Singapura, Rabu (21/10/2026).
Dia menegaskan tidak ada pihak dari Temasek yang menghubungi MSCI untuk memengaruhi keputusan terkait bursa mana pun di kawasan ini.
“Tidak seorang pun dari Temasek, baik institusi maupun individu yang bekerja di dalamnya, pernah menghubungi MSCI untuk memengaruhi keputusan apa pun yang mereka ambil terkait bursa di kawasan ini. Tuduhan tersebut sama sekali tidak benar,” ujar Fock.
Tuduhan Lutfi muncul setelah MSCI mengumumkan konsultasi mengenai kemungkinan mengubah klasifikasi indeks saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. Lutfi mengungkapkan bahwa dirinya mendengar bahwa salah satu eksekutif GIC, Rachel Goh yang menekan MSCI secara langsung agar segera menurunkan status pasar saham Indonesia.
Sementara itu, MSCI menyoroti sejumlah persoalan pada bursa Indonesia, terutama dugaan praktik perdagangan terkoordinasi, sebagai bagian dari pertimbangan dalam evaluasi tersebut. Pengumuman itu memicu tekanan tajam di pasar saham domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat anjlok hingga 16 persen sebelum memangkas sebagian penurunan dan diperdagangkan di sekitar level 5.300.
Presiden Prabowo Subianto pada Rabu turut menanggapi persoalan tersebut dengan menyatakan Indonesia tidak akan gentar menghadapi MSCI. Dia pun menuding MSCI berupaya mengintimidasi Indonesia.
MSCI menyatakan keputusan klasifikasi pasar didasarkan pada metodologi yang transparan dan berbasis aturan. Dalam metodologinya, MSCI membagi pasar saham menjadi empat kategori, yakni developed market, emerging market, frontier market, dan standalone market.
MSCI menjelaskan perubahan status menjadi standalone market dapat terjadi ketika aksesibilitas pasar, ukuran pasar, atau likuiditas mengalami penurunan signifikan. Saat ini, sejumlah pasar yang masuk kategori tersebut antara lain Argentina, Lebanon, Ukraina, dan Jamaika.
(Rahmat Fiansyah)









