Bank Besar Angkat IHSG usai Heboh MSCI, Saham Konglo Masih Tertekan

Bank Besar Angkat IHSG usai Heboh MSCI, Saham Konglo Masih Tertekan

Ekonomi | idxchannel | Selasa, 20 Oktober 2026 - 10:34
share

IDXChannel – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat tajam pada perdagangan Selasa (20/10/2026), berusaha rebound setelah dua hari tertekan akibat ancaman MSCI yang berpotensi menurunkan status pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga pukul 09.47 WIB, IHSG naik 118,78 poin atau 2,38 persen ke level 5.115,39.

Indeks sempat menyentuh level harian tertinggi 5.157,15 setelah dibuka di 4.980,16.

Penguatan tersebut menjadi upaya pemulihan setelah IHSG anjlok 11,57 persen pada Jumat (16/10) dan kembali melemah 3,64 persen pada Senin (19/10).

Rebound IHSG pada perdagangan Selasa terutama ditopang saham-saham bank berkapitalisasi besar yang kembali menguat setelah mengalami tekanan dalam dua sesi sebelumnya.

Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) naik 6,69 persen ke Rp2.710 dan menjadi kontributor terbesar terhadap penguatan IHSG dengan sumbangan 25,18 poin. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) melonjak 8,04 persen ke Rp3.630 dengan kontribusi 21,65 poin.

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) juga menguat 4,25 persen ke Rp5.025 dan menyumbang 18,78 poin terhadap IHSG. Sementara itu, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) naik 6,08 persen ke Rp3.140.

Di luar sektor perbankan, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) menjadi salah satu penopang utama IHSG dengan lonjakan 13,56 persen ke Rp2.010.

Secara keseluruhan, sebanyak 491 saham menguat, 214 saham melemah, dan 213 saham stagnan. Volume transaksi tercatat mencapai 12,91 miliar saham.

Namun, rebound IHSG belum diikuti secara merata oleh saham-saham berkapitalisasi besar.

Sejumlah saham yang terafiliasi dengan grup konglomerasi justru masih berada di zona merah.

PT Bayan Resources Tbk (BYAN) turun 4,34 persen ke Rp9.925 dan menjadi salah satu pemberat terbesar IHSG.

PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) anjlok 6,87 persen ke Rp3.390, sedangkan PT DCI Indonesia Tbk (DCII) melemah 0,99 persen ke Rp185.050.

Tekanan juga terlihat pada PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) yang turun 2,65 persen ke Rp2.200, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) terkoreksi 1,38 persen ke Rp430, dan PT Petrosea Tbk (PTRO) jatuh 4,82 persen ke Rp2.960.

PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) melemah 3,76 persen ke Rp486. PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) turun 4,02 persen ke Rp334, PT Singaraja Putra Tbk (SINI) terkoreksi 6,95 persen ke Rp10.375, sedangkan PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) anjlok 6,99 persen ke Rp346. PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) juga turun 1,78 persen ke Rp830.

Pergerakan yang kontras tersebut terjadi ketika pasar tengah mencermati pembenahan BEI terkait struktur kepemilikan saham, salah satunya melalui kategori High Shareholding Concentration (HSC).

Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan bursa menyiapkan dua kebijakan baru sebagai bagian dari tindak lanjut evaluasi MSCI yang memunculkan risiko penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia.

Kebijakan pertama adalah mengeluarkan seluruh saham yang masuk kategori HSC dari perhitungan bobot IHSG. Kategori tersebut berkaitan dengan konsentrasi kepemilikan saham yang tinggi.

Kebijakan kedua berupa penambahan keterangan mengenai status afiliasi pemegang saham dengan kepemilikan di atas 1 persen dalam publikasi data kepemilikan saham.

Langkah tersebut ditujukan untuk memperjelas struktur kepemilikan dan membantu investor mengidentifikasi hubungan antar-pemegang saham.

Sebelumnya, BEI telah menggelar pertemuan virtual dengan MSCI pada Senin (19/10) untuk membahas rencana reklasifikasi pasar saham Indonesia.

Namun, Jeffrey belum mengungkapkan isi maupun kesimpulan pertemuan tersebut karena adanya kesepakatan antara kedua pihak.

"Kami membicarakan banyak hal. Namun, seperti pertemuan-pertemuan sebelumnya dengan MSCI, kami tidak dapat mengungkapkan detail maupun kesimpulan dari pertemuan tersebut," ujar Jeffrey dalam konferensi pers di Gedung BEI, Senin (19/10/2026).

Di tengah gejolak pasar, BEI juga kembali menyesuaikan ketentuan batasan Auto Rejection Bawah (ARB) untuk saham dengan rentang harga Rp11 hingga Rp14. Batas ARB untuk kelompok harga tersebut diubah dari sebelumnya 7 persen menjadi nominal Rp1.

Sekretaris Perusahaan BEI Elsierra Putri Yosita mengatakan penyesuaian tersebut dilakukan setelah bursa mengevaluasi penerapan ARB asimetris sebesar 7 persen yang mulai berlaku pada 19 Oktober 2026.

“Penyesuaian ini merupakan bagian dari upaya BEI untuk menjaga perdagangan dapat berlangsung teratur, wajar, dan efisien serta mendukung mekanisme pembentukan harga yang lebih baik. Kebijakan ini dilakukan berdasarkan hasil evaluasi terhadap penerapan ketentuan ARB asimetris sebesar 7 persen yang telah diberlakukan pada 19 Oktober 2026,” kata Elsierra dalam keterangannya, Selasa (20/10/2026).

Sementara itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan akan melanjutkan reformasi pasar modal meskipun Indonesia menghadapi ancaman penurunan status oleh MSCI. Salah satu persoalan yang menjadi fokus pembenahan adalah praktik perdagangan saham yang terkoordinasi atau coordinated trading. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Topik Menarik