Saham TRIN Anjlok Lagi Usai Rahayu Saraswati Mundur, Reli Spekulatif Berakhir?
IDXChannel - Saham PT Perintis Triniti Properti Tbk (TRIN) kembali turun tajam pada Rabu (14/10/2026) setelah Rahayu Saraswati D. Djojohadikusumo mengundurkan diri dari jabatan Komisaris Utama.
Mundurnya keponakan Presiden Prabowo Subianto itu menambah tekanan terhadap saham TRIN yang sebelumnya telah terkoreksi dalam setelah sempat melonjak tajam pada awal 2026.
Perusahaan menerima surat pengunduran diri Rahayu pada 7 Oktober 2026. Keterbukaan informasi terkait keputusan tersebut kemudian disampaikan dua hari berselang.
Manajemen TRIN menegaskan pengunduran diri tersebut tidak berdampak material terhadap kegiatan operasional, kondisi keuangan, maupun kelangsungan usaha perseroan.
Rahayu juga menegaskan bahwa keputusannya hanya berkaitan dengan jabatan di jajaran komisaris, bukan kepemilikan saham.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), ia masih memiliki sekitar 3,92 persen saham TRIN atau setara dengan 178,6 juta saham.
“Meskipun demikian, pengunduran diri ini tidak mengakhiri hubungan Beliau dengan Perseroan. Beliau tetap menjadi pemegang saham Perseroan, baik secara langsung maupun tidak langsung, dan akan terus berkontribusi bagi Perseroan dalam kapasitasnya sebagai pemegang saham,” tulis manajemen TRIN.
Meski demikian, pasar merespons negatif kabar tersebut. Pada perdagangan 9 Oktober 2026, saham TRIN ditutup anjlok hingga 14,29 persen ke level Rp204 per unit.
Pada Rabu (14/10/2026), pukul 09.58 WIB, saham TRIN ambles 4,40 persen ke Rp152 per unit.
Artinya, saham TRIN sudah melemah 6 hari berturut-turut sehingga penurunan mingguan 47,59 persen.
Tekanan tersebut terjadi setelah perjalanan harga TRIN yang sangat volatil.
Dari level ratusan rupiah pada akhir 2025, saham ini sempat melesat hingga menyentuh Rp1.975 pada awal 2026.
Namun, setelah mencapai puncaknya, harga terus terkoreksi hingga berada di kisaran Rp150-an pada pertengahan Oktober 2026.
Euforia Penunjukan Rahayu Saraswati
Lonjakan harga TRIN bermula sejak awal Oktober 2025, dua bulan sebelum Rahayu diangkat sebagai Komisaris Utama melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 2 Desember 2025.
Bersamaan dengan pengangkatan tersebut, ia memperoleh opsi pengalihan saham awal sekitar 5 persen dari pemegang saham utama, dengan rencana peningkatan kepemilikan secara bertahap hingga 20 persen.
Kehadiran Rahayu langsung memicu euforia di pasar. Saham TRIN sempat mencatat auto rejection atas (ARA) selama beberapa hari berturut-turut dan melonjak ratusan persen dalam waktu singkat.
Pasar tidak hanya merespons perubahan susunan manajemen, tetapi juga menaruh harapan pada koneksi keluarga Hashim Djojohadikusumo serta rencana diversifikasi bisnis perseroan.
Ekspansi ke sektor pusat data (data center), kawasan logistik (logistics park), dan perhotelan mewah menjadi bagian dari narasi yang mendorong spekulasi terhadap saham TRIN.
Namun, reli tersebut sejak awal tidak lepas dari pertanyaan mengenai kekuatan fundamentalnya.
Sejumlah analis mengingatkan bahwa kenaikan harga TRIN lebih banyak ditopang sentimen nonfundamental ketimbang perbaikan kinerja bisnis yang terukur.
Setelah harga mencapai puncak, aksi ambil untung atau profit taking mulai menekan saham TRIN.
Di saat yang sama, kinerja keuangan perseroan belum menunjukkan pemulihan yang cukup kuat untuk menopang valuasi setelah reli besar tersebut.
Pendapatan TRIN tercatat sekitar Rp188 miliar sepanjang 2025.
Sementara itu, pada semester I-2026, penjualan anjlok sekitar 83 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp29 miliar.
Laba bersih yang masih tercatat pada periode tersebut juga perlu dicermati karena lebih banyak ditopang pendapatan lain-lain.
Di sisi lain, arus kas operasi masih negatif dan beban utang tetap tinggi.
Tekanan terhadap saham TRIN bahkan sudah terlihat sebelum pengunduran diri Rahayu diumumkan.
Pada akhir September 2026, BEI meminta penjelasan perseroan setelah harga sahamnya terkoreksi kumulatif 20 persen dalam tiga hari perdagangan.
Dalam tanggapannya pada 1 Oktober 2026, perusahaan menyatakan tidak terdapat fakta material yang belum diungkapkan kepada publik.
Prospek TRIN Kembali Bergantung pada Fundamental
Pengunduran diri Rahayu menjadi sentimen tambahan di tengah tren penurunan harga yang sudah berlangsung.
Meski ia menyatakan tetap menjadi pemegang saham dan mendukung proses transisi, keluarnya Rahayu dari jajaran komisaris berpotensi mengurangi daya tarik spekulatif yang sebelumnya melekat pada saham TRIN.
Artinya, pergerakan saham TRIN ke depan akan bergantung pada kemampuan perseroan membuktikan prospek bisnisnya melalui kinerja yang lebih terukur. Begitu pula dengan perkembangan rencana diversifikasi ke sektor baru.
Potensi perbaikan kinerja dan diversifikasi bisnis memang dapat menjadi katalis bagi saham TRIN.
Namun, peluang tersebut masih perlu dibuktikan melalui realisasi proyek, pertumbuhan pendapatan, dan perbaikan arus kas. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.







