Hashim Mundur dari Komisaris Utama, Saham WIFI Masih Menarik?
IDXChannel - PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) mencatatkan pertumbuhan laba bersih 118 persen menjadi Rp496,8 miliar pada semester I-2026, ditopang ekspansi bisnis telekomunikasi yang kini menjadi kontributor utama pendapatan.
Di tengah ekspansi jaringan internet berbasis serat optik dan akses nirkabel, valuasi saham WIFI dinilai masih menarik, meski kecepatan pembangunan jaringan menjadi salah satu risiko yang perlu dicermati.
Analis UOB Kay Hian, Willinoy Sitorus dan Andrew Agita Buntoro, dalam riset pada 8 Oktober 2026, menilai WIFI memiliki fundamental bisnis yang solid dengan valuasi menarik.
Perusahaan menggabungkan bisnis penyedia layanan internet dengan platform infrastruktur serat optik melalui dua anak usaha, yakni Telemedia Komunikasi Pratama (TKP) dan Integrasi Jaringan Ekosistem (WEAVE).
TKP yang 99,9 persen sahamnya dimiliki WIFI mengoperasikan bisnis fixed wireless access (FWA) berbasis 5G.
Sementara itu, WEAVE, yang 51 persen sahamnya dimiliki WIFI dan 49 persen oleh Nippon Telegraph and Telephone East, menjalankan bisnis fiber-to-the-home (FTTH).
WEAVE juga mengelola jaringan serat optik sepanjang lebih dari 8.000 kilometer di sepanjang jalur kereta api.
Infrastruktur tersebut dapat mendukung perluasan layanan FTTH sekaligus disewakan kepada pihak ketiga, sehingga membuka peluang pendapatan tambahan dari pemanfaatan jaringan.
Hingga semester I-2026, WIFI memiliki 1,85 juta pelanggan FTTH dan 513.000 pelanggan FWA.
Perusahaan menargetkan total pelanggan kedua layanan tersebut melampaui 3 juta hingga akhir 2026, dengan cakupan jaringan FTTH mencapai 3,5 juta rumah (homes passed) dan jumlah titik layanan FWA sebanyak 5.500 lokasi.
Untuk mempercepat ekspansi FWA, WIFI menggunakan menara mini (mini-tower) yang dipasang di atas bangunan tempat tinggal.
Strategi ini berpotensi mempercepat pembangunan jaringan, tetapi realisasi target ekspansi tetap bergantung pada kemampuan perusahaan mengeksekusi pembangunan infrastruktur sesuai rencana.
Dari sisi kinerja keuangan, pendapatan WIFI mencapai Rp1,57 triliun pada semester I-2026, tumbuh 206 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
Pendapatan telekomunikasi melonjak 357 persen menjadi Rp1,28 triliun, dengan kontribusi sekitar 82 persen terhadap total pendapatan.
EBITDA meningkat 117 persen secara tahunan menjadi Rp948,9 miliar, dengan margin 60,4 persen. Sementara itu, laba bersih tumbuh 118 persen menjadi Rp496,8 miliar.
Ekspansi jaringan juga tercermin dari belanja modal (capital expenditure/capex) yang telah melampaui Rp1 triliun pada semester I-2026.
Dana tersebut terutama digunakan untuk pembangunan titik layanan FWA, perluasan cakupan jaringan FTTH, serta pengadaan perangkat di sisi pelanggan.
Di sisi likuiditas, WIFI mengakhiri semester I-2026 dengan kas sebesar Rp8,29 triliun dan rasio utang bersih terhadap EBITDA sebesar 0,85 kali. Manajemen menargetkan margin EBITDA sebesar 50-60 persen sepanjang 2026.
Meski demikian, kontribusi pendapatan dari pelanggan baru berpotensi tidak langsung tercermin sepenuhnya dalam laporan keuangan.
WIFI memberikan periode gratis selama tiga bulan bagi pelanggan baru, termasuk pelanggan yang diperoleh melalui kampanye Piala Dunia.
Kebijakan ini berpotensi menunda pengakuan pendapatan, sehingga kontribusi penuhnya diperkirakan baru lebih terasa pada 2027.
Pengunduran Diri Hashim dan Spekulasi Konsolidasi
Di luar kinerja operasional, dinamika pemegang saham turut menjadi perhatian pasar setelah Hashim Djojohadikusumo mengundurkan diri dari jabatan Komisaris Utama WIFI, hanya tiga bulan setelah diangkat. Direktur WIFI, Henny Santoso, juga mengundurkan diri.
Perubahan tersebut memunculkan spekulasi mengenai kemungkinan perbedaan pandangan di internal perusahaan.
Namun, UOB Kay Hian menilai pengunduran diri tersebut tidak serta-merta menunjukkan putusnya keterkaitan Hashim dengan WIFI.
Perubahan itu juga berpotensi menjadi bagian dari restrukturisasi yang lebih luas atas kepentingan investasinya.
Melalui Arsari Sentra Data, Hashim memiliki 45 persen saham Investasi Sukses Bersama, entitas yang mengendalikan 54,42 persen saham WIFI. Dengan struktur kepemilikan tersebut, kepentingan ekonominya di WIFI diperkirakan setara sekitar 24,5 persen.
WIFI juga menyatakan pengunduran diri kedua pejabat tersebut tidak berdampak material terhadap kegiatan operasional, kondisi keuangan, maupun kelangsungan usaha perusahaan.
Selain itu, PT Era Media Sejahtera Tbk (DOOH) disebut telah mengindikasikan rencana untuk mengakuisisi WIFI, sekaligus menjajaki akuisisi PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET).
Menurut analisis UOB Kay Hian, perkembangan ini dapat mengarah pada konsolidasi aset infrastruktur digital yang lebih luas, alih-alih menandakan Hashim sepenuhnya keluar dari ekosistem bisnis tersebut.
Valuasi WIFI dan Risiko Ekspansi
Dari sisi valuasi, WIFI diperdagangkan pada rasio enterprise value to EBITDA (EV/EBITDA) 12 bulan terakhir sebesar 4,63 kali. Angka tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata operator jaringan seluler Indonesia sebesar 4,31 kali.
Meski diperdagangkan dengan premi tipis, UOB Kay Hian menilai perbandingan tersebut belum sepenuhnya mencerminkan potensi ekspansi bisnis FWA WIFI yang masih berlangsung.
Kendati demikian, investor perlu mencermati risiko eksekusi, terutama kecepatan pembangunan jaringan dan pencapaian target pelanggan.
Memburuknya kondisi makroekonomi juga menjadi risiko yang dapat memengaruhi prospek perusahaan.
Ke depan, pengumuman aksi korporasi menjadi salah satu katalis yang dapat memengaruhi pergerakan saham WIFI, di tengah upaya perusahaan memperluas basis pelanggan dan memperkuat bisnis infrastruktur digital. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.










