Harga Minyak Naik Pekan Ini, Brent Menguat 2 Persen
IDXChannel - Harga minyak mentah ditutup menguat pada perdagangan Jumat (9/10/2026), setelah aktivitas produksi di perairan Amerika Serikat (AS) terganggu akibat ancaman Badai Isaias yang bergerak menuju Teluk Meksiko bagian utara.
Kontrak berjangka Brent naik 0,42 persen menjadi USD104,72 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS ditutup naik 0,39 persen ke USD91,85 per barel.
Dalam sepekan, harga Brent menguat 2,42 persen, sedangkan WTI naik 0,39 persen.
Penguatan harga pada akhir pekan terjadi setelah perusahaan minyak menutup lebih dari 70 persen produksi minyak mentah di perairan AS akibat Badai Isaias.
Berdasarkan data US Marine Minerals Administration, sekitar 1,3 juta barel per hari atau 62,9 persen dari produksi minyak saat ini di kawasan tersebut telah dihentikan hingga Kamis.
Meski demikian, harga minyak sempat tertekan pada awal perdagangan setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan pembicaraan dengan Iran untuk mengakhiri perang di Timur Tengah berlangsung produktif.
Trump juga mengisyaratkan adanya pengumuman terkait solar yang belum diungkapkan serta mempertimbangkan penangguhan pajak federal atas bensin.
"Janji Trump terkait Iran, ditambah dimulainya kembali ekspor produk minyak China, mendorong harga bergerak lebih rendah," kata analis PVM Oil Associates Tamas Varga, seperti dikutip Reuters.
China, sebagai importir minyak terbesar dunia, berencana kembali mengekspor produk bahan bakar setelah sempat menghentikan ekspor selama libur Golden Week.
Reuters melaporkan perkembangan tersebut pada Jumat dengan mengutip sejumlah sumber.
Pergerakan harga minyak sepanjang pekan ini cenderung volatil seiring meningkatnya ancaman terhadap pelayaran di Teluk dan Selat Hormuz.
Sebelum perang, jalur tersebut dilalui pengiriman minyak dan bahan bakar yang setara dengan sekitar 20 persen konsumsi global.
Trump pada Kamis menyatakan Washington tengah melakukan "pembicaraan produktif" dengan Iran.
Dia juga mengatakan tidak ada serangan yang direncanakan sebelum pemilu kongres paruh waktu AS pada 3 November 2026, setelah muncul laporan bahwa pemerintah AS mempertimbangkan serangan sebelum pemilu tersebut.
Kantor berita Iran Tasnim pada hari yang sama melaporkan Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi mengatakan Teheran sedang meninjau respons AS terhadap proposal Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari.
Di sisi lain, AS masih menekan Iran melalui sanksi ekonomi. Washington menjatuhkan sanksi terhadap sejumlah individu, jaringan, dan 17 kapal yang digunakan untuk mengangkut minyak mentah, produk minyak, serta petrokimia Iran.
Perang Iran serta konflik Rusia-Ukraina juga mengganggu pasokan sejumlah produk bahan bakar olahan, seperti bensin, bahan bakar jet, dan terutama solar.
Di pasar minyak, gangguan pasokan akibat Badai Isaias menjadi salah satu faktor penopang harga pada akhir pekan.
Produsen di Teluk Meksiko telah menghentikan sekitar 1,3 juta barel per hari produksi minyak mentah atau 62,9 persen dari produksi saat ini di kawasan tersebut hingga Kamis. (Aldo Fernando)









