Marak Kecelakaan Kapal, GIPI Klaim Penyedia Layanan di Bawah Asosiasi Utamakan Aspek Keselamatan

Marak Kecelakaan Kapal, GIPI Klaim Penyedia Layanan di Bawah Asosiasi Utamakan Aspek Keselamatan

Terkini | idxchannel | Rabu, 23 September 2026 - 18:20
share

IDXChannel—Ketua Umum Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI), Hariyadi B.S. Sukamdani, mengungkapkan bahwa kejadian kecelakaan kapal belakangan ini tidak memengaruhi konektivitas pariwisata melalui moda transportasi laut.

Dua tragedi di antaranya adalah tragedi kapal lima jurnalis yang hilang kontak saat meliput Gunung Anak Krakatau pada 7 September 2026 kemarin serta tragedi KM Virgo Transport 8 yang terbalik pada 13 September 2026.

Hariyadi mengatakan, hal tersebut tidak berpengaruh pada pelaku industri di bawah naungan GIPI karena pihaknya selalu menekankan aspek keselamatan kepada seluruh asosiasi pariwisata di bawah GIPI. 

Salah satunya adalah seleksi cermat keselamatan bagi berbagai moda transportasi penghubung pariwisata. 

“Kalau menurut saya, enggak. Kalau aspek keselamatan dari yang menyediakan jasa transportasi itu kurang, mestinya enggak dinaikin. Kalau ada yang mengambil risiko, ya, tentunya sudah tahu risikonya seperti itu. Nah, yang kita lakukan di industri pariwisata itu pasti kita melakukan seleksi, kita cermati semua, kita lihat, kita dalami masalah aspek keselamatan,” kata Hariyadi saat diwawancarai usai Konferensi Pers JWITF di Gedung Sapta Pesona Kementerian Pariwisata, Rabu (23/9/2026).

Ia menegaskan bahwa pihak penyedia pariwisata maupun mitra di bawah naungan GIPI tidak akan berani mengangkut wisatawan dengan sarana transportasi yang tidak memadai, bahkan aspek keselamatannya tidak terverifikasi.

“Nah, itu kita lihat, kita enggak akan berani mengangkut wisatawan mau itu lokal maupun asing dengan sarana transportasi yang tidak terverifikasi, jadi itu kembali ke situ,” ucap dia.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa aspek keselamatan transportasi dari segi pariwisata tidak hanya transportasi laut, melainkan juga transportasi darat, bahkan udara. 

“Jadi, masalah aspek keselamatan untuk transportasi. Jadi sebetulnya nggak hanya kapal,tidak hanya di angkutan laut, tapi juga darat dan tentunya udara. Tapi yang kalau udara mungkin regulasinya lebih ketat,” tegas Hariyadi.

Meski demikian, dia mengungkapkan bahwa tantangan terbesar industri saat ini justru terletak pada persaingan harga yang kerap mengabaikan standar keselamatan.

"Memang yang agak sulit itu kalau menghadapi dari sisi tour operator-nya menjual terlalu murah sehingga dia mencari mitranya yang relatif juga harganya sangat kompetitif. Di situ biasanya faktor keselamatan menjadi terabaikan. Bagi kami, itu yang jelas aspek keselamatan kami sendiri juga melakukan seleksi terhadap mitra,” ujar dia.

Ia menambahkan bahwa sebagian besar insiden keselamatan yang terjadi belakangan ini dialami oleh penyedia jasa di luar ekosistem resmi yang dinaungi GIPI.

"Sejauh ini, apa yang kami lihat adalah bahwa apabila prosedur pemilihan mitra itu berjalan dengan baik, alhamdulillah, kecelakaannya relatif kecil. Namun, memang betul ada yang saya sampaikan, kebanyakan yang mengalami problem itu justru yang di luar jangkauan kami,” ungkap Hariyadi.

“Artinya memang mereka adalah tour operator yang tidak tergabung di dalam asosiasi. Di GIPI sendiri ada 25 asosiasi persatuan yang telah bergabung di dalam (GIPI). Jadi kita cukup baik, bahkan beberapa asosiasi anggota GIPI itu juga menjalin kerja sama dengan pihak asuransi. Ini juga cukup baik,” tambah dia.

Tak hanya fokus pada moda transportasi pengangkut wisatawan, Haryadi menuturkan bahwa pengawasan keselamatan juga diterapkan secara ketat pada objek wisata berbasis wahana rekreasi.

"Untuk anggota kami yang terkait dengan taman rekreasi, terutama di situ wahana-wahana, itu juga secara rutin mereka juga melakukan pengawasan, monitoring terhadap keselamatan di wahananya. Jadi bagi kami, aspek keselamatan itu menjadi prioritas bersama,” pungkas Hariyadi.


(Nadya Kurnia)

Topik Menarik