Rupiah Melemah ke Rp17.694 Dibayangi Konflik Timur Tengah hingga The Fed
IDXChannel - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah 25 poin atau 0,14 persen ke level Rp17.694 per USD pada Selasa (15/9/2026).
Analis pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan rupiah dipengaruhi sentimen eksternal, terutama meningkatnya ketegangan di Timur Tengah serta kebijakan The Fed.
“Posisi-posisi tersebut juga memungkinkan kelompok itu melancarkan lebih banyak serangan terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Bab al-Mandab, sehingga mengancam pasokan minyak di kawasan tersebut,” tulis Ibrahim dalam risetnya Selasa (15/9/2026).
Kelompok Houthi di Yaman yang beraliansi dengan Iran kembali melancarkan serangan terhadap Arab Saudi sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak
Menurut Ibrahim, eskalasi tersebut membuka front baru dalam konflik Timur Tengah. Para analis memperkirakan perkembangan itu berpotensi mengganggu sekitar 4-5 persen pasokan minyak global.
Perhatian pasar juga tertuju pada kebijakan moneter AS. Di mana data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS yang dirilis Jumat memperkuat ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) sebesar 25 basis poin dalam pertemuan pekan ini.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar kini memperhitungkan probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin mencapai 89 persen, meningkat dari sekitar 59,4 persen pada pekan sebelumnya.
Dari dalam negeri, perhatian pasar juga tertuju pada arah kebijakan fiskal pemerintah dan pergantian Menteri Keuangan dari Purbaya Yudhi Sadewa ke Suahasil Nazara.
Suahasil bukan merupakan sosok baru di Kementerian Keuangan. Dia menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan sejak 2019 dan sebelumnya memiliki pengalaman panjang sebagai teknokrat di lingkungan Kementerian Keuangan.
Dengan latar belakang tersebut, penunjukan Suahasil dinilai memberikan sinyal kesinambungan kebijakan fiskal dan relatif tidak mengejutkan pasar.
Namun, tantangan yang dihadapi Suahasil tidak hanya berkaitan dengan menjaga defisit. Dia harus mengelola APBN di tengah kebutuhan pemerintah untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, membiayai berbagai program prioritas, menghadapi tekanan harga energi global, serta mempertahankan kepercayaan investor terhadap kondisi fiskal Indonesia.
(DESI ANGRIANI)









