Pemerintah Siapkan Koperasi Perkuat Rantai Pasok Bahan Baku Bioetanol

Pemerintah Siapkan Koperasi Perkuat Rantai Pasok Bahan Baku Bioetanol

Terkini | idxchannel | Selasa, 15 September 2026 - 14:00
share

IDXChannel - Pemerintah menyiapkan skema koperasi untuk memperkuat rantai pasok bahan baku industri bioetanol nasional. Skema tersebut akan menghubungkan petani sebagai pemasok bahan baku dengan fasilitas pengolahan bioetanol sebagai penyerap hasil produksi.

Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM Todotua Pasaribu mengatakan pengembangan industri bioetanol membutuhkan keterhubungan antara sektor pertanian dan industri pengolahan. Menurutnya, petani membutuhkan kepastian pasar, sementara industri membutuhkan pasokan bahan baku yang cukup dan berkelanjutan.

"Jadi, masyarakat juga bisa ikut menanam. Konsep koperasi pun bisa kita jalankan. Koperasi nantinya menjadi pusat pengumpulan bahan baku, sementara fasilitas di sini menjadi penyerap atau offtaker-nya," ujar Todotua dalam keterangan resmi, Selasa (15/9/2026).

Dia menjelaskan skema tersebut menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem industri bioetanol dari hulu hingga hilir. Dengan adanya koperasi, hasil pertanian dari masyarakat dapat dikonsolidasikan sebelum disalurkan ke fasilitas pengolahan.

Menurut Todotua, pengembangan bioetanol juga membuka peluang bagi masyarakat untuk terlibat dalam penyediaan bahan baku. Indonesia memiliki sejumlah komoditas yang berpotensi dikembangkan sebagai bahan baku bioetanol, seperti tebu, singkong dan sorgum.

"Pengembangan bioetanol ini memiliki keterkaitan dengan empat agenda utama, yakni ketahanan energi, hilirisasi, transisi energi dan ketahanan ekonomi," katanya.

Konsep serupa juga akan diterapkan dalam pengembangan Bioethanol Development Center di Tegineneng. Fasilitas yang dikembangkan melalui kerja sama PT Pertamina New & Renewable Energy (PNRE) dan PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) tersebut menggunakan konsep multi-feedstock.

Sumber bahan baku yang disiapkan antara lain molases, sorgum dan limbah biomassa. Diversifikasi bahan baku tersebut diharapkan dapat memberikan fleksibilitas sekaligus memperkuat kepastian pasokan bagi industri.

Todotua menyatakan kepastian bahan baku menjadi salah satu faktor penting dalam pengembangan industri bioetanol. Pasalnya, pengembangan kapasitas produksi tidak akan optimal apabila tidak diikuti dengan ketersediaan bahan baku yang memadai.

"Petani membutuhkan pasar yang jelas, industri membutuhkan pasokan bahan baku yang cukup, sementara investor membutuhkan kepastian bahwa ekosistem industri dapat berjalan dalam jangka panjang," ujarnya.

Pada tahap awal, Bioethanol Development Center di Lampung dikembangkan dengan kapasitas 60 kiloliter. Fasilitas tersebut ditargetkan mulai menghasilkan bioetanol paling lambat pada Desember 2026 untuk mengukur keekonomian produksinya.

(NIA DEVIYANA)

Topik Menarik